-->
    |



Ironi Investasi di Maluku Utara


Oleh: Gufran Ayub

(Mahasiwa Pasca Sarjana Ilmu Ekonomi Universitas Trisakti)


 Maluku utara merupakan salah satu dari 38 provinsi di Indonesia yang memiliki sumber daya alam yang melimpah. Kekayaan alam Maluku Itara meliputi luas kesuburan tanah, keadaan iklim dan cuaca, jenis hasil pertanian, kehutanan, perikanan kelautan, sektor jasa, kekayaan tambang dll. 

Maluku utara Terdiri dari 10 Kabupaten/Kota dan 1.203 desa/kelurahan. Desa/keurahan yang berkedudukan di tepi laut berjumlah 898 dan bukan di tepi laut sebanyak 305 desa/keluarahan. Hingga tahun 2022, jumlah penduduk maluku utara 1.339.546 jiwa, (BPS Malut: 2023). 

Rata-rata masyarakat lebih banyak hidup di desa/kelurahan yang berkedudukan di tepi laut. Melimpah, tetapi masih banyak kelangkaan atau keterbatasan di berbagai sektor seperti SDM, Ketersediaan Modal, Teknologi dll. Itulah yang menghendaki perlunya kerja sama secara interaktif antara pemerintah dan pihak swasta (Perusahan) dalam mengelola sumber daya alam yang tersedia.

 Dibalik potensi yang dimiliki, berdasarkan Peraturan Presiden No.63 Tahun 2020. Maluku Utara termasuk kategori daerah 3T, (Terdepan, Terpencil dan Tertinggal) di Indonesia. Teori Lewis menjelaskan, bahwa suatu wilayah terbelakang, membutuhkan transformasi struktur ekonomi dengan cara, mentransformasi sektor pertanian tradisional ke sektor industri modern. Hal ini akan mempengaruhi pengalihan tenaga kerja dari tradisional ke industri modern, terjadi peningkatan output dan kesempatan kerja. Masuknya ternaga kerja ke sektor industri modern juga akan menambah produktivitas dan output. (W. Arthur Lewis: 1950). 

Saat ini, investasi hilirisasi digencarkan untuk mentransformasi struktur ekonomi sehingga punya nilai tambah dan daya saing. Investasi sebagai penyedia modal, menjadi kunci percepatan pembangunan dan kemajuan perekonomian, (Indonesia.Go.Id, 2023). Teori Solow juga meyakini bahwa investasi, tingkat tabungan, pertumbuhan populasi dan kemajuan teknologi mempengaruhi tingkat output perekonomian dan pertumbuhan ekonomi pada periode waktu tertentu, (Mankiw:2000).

 Kementerian ESDM menyebut, Provinsi Maluku Utara menyimpan potensi SDA yang cukup besar, terutama di bidang pertambangan logam dan panas bumi. Kekayaan alam itulah yang membuat investor tertarik berinvestasi di maluku utara. Pembangunan smelter yang dilakukan oleh PT. Halmahera Persada Legend (HPL) di bawah galangan Perusahan PT. Harita Group, nilainya lebih dari US$ 1 miliar atau lebih dari Rp. 14,3 triliun. Potensi hipotetik mineral Nikel di pulau Halmahera sebesar 238 juta ton yang dapat diolah menjadi Fero-Nikel (FeNi). Semester I-2023, direncanakan sudah bisa produksi dengan kapasitas produksi untuk NiSO4) 240 ribu ton per tahun dan CoSO4 sebesar 30 ribu ton per tahun. 

Kata Director of Health, Safety and Environment PT Trimegah Bangun Persada Tbk, Tonny H. Gultom, “Produksi Nikel Sulfat, memang tak hanya di Pulau Obi Indonesia, tapi juga diproduksi di China, Australia, dan Kongo. Tapi produksinya tak sebesar di Pulau Obi. Pabrik nikel sulfat di pulau obi, merupakan fasilitas pabrik pertama di Indonesia dan terbesar di dunia, (CNBC Indonesia, 2022).

 Selain PT. Harita Group di Halmahera Tengah, ada juga PT. IWIP di Halmahera Tengah yang di resmikan tanggal 31 agustus 2021. Sampai saat ini realisasi investasi PT IWIP mencapai Rp1,476 triliun. Untuk jangka panjangnya, indsutri ini mencanangkan investasi sebesar 10 miliar dollar AS. Industri smelter nikel seperti di PT. IWIP merupakan industri baru yang memiliki banyak potensi hilirisasi dalam pohon industri di Indonesia. Produknya dari mulai baterai hingga mobil tanpa kendali. Industri ini dapat membangkitkan pengembangan industri lain, (Tribun Bisnis, 2023).

 Dua investasi dengan kapasitas produksi terbesar dunia saat ini, bercokol di Maluku Utara. Performanya mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi maluku utara. Hingga Triwulan II 2023, pertumbuhan mencapai 23,89% (y-on-y). Pertumbuhan ekonomi maluku utara, paling tertinggi di dunia. Jauh melewati pertumbuhan PDB Tiongkok yang hanya 6,3%. Kontribusi terbesar pada PDRB maluku utara, adalah sektor lapangan usaha pertambangan dan penggalian sebesar 64%. 

Secara global, posisi Maluku Utara sebagai penghasil sumber daya nikel dengan kapasitas produksi terbesar di dunia. Artinya, daerah ini menjadi salah satu kontributor besar dalam mendongkrak pendapatan dan kekayaan negara Indonesia. Tetapi uniknya, kontribusi pertumbuhan ekonomi maluku utara terhadap perekonomian nasional hanya sebesar 0,4%. Paling terkecil dari semua wilayah di Indonesia, (BPS Malut, 2023).

 Begitu gemilangnya pertumbuhan ekonomi Maluku Utara, merupakan indikasi keberhasilan pembangunan ekonomi di daerah, (Sukirno, 2000). Namun faktanya tidak demikian, perekonomian tumbuh menjulang langit, diringi dengan kemiskinan, pengangguran dan ketimpangan di berbagai sektor. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Maluku Utara, 24.273 jiwa, dengan persentase 3,98% dan tingkat penduduk miskin maluku utara berjumlah 6,23 ribu jiwa. Rata-rata pendapatan penduduk miskin di Kota, sebesar Rp. 532.792. Sedangkan pendapatan masyarakat di desa, Rp. 573.361 per bulan dengan indeks kedalaman kemiskinan 1,23%, per september 2022. (BPS Maluku Utara, 2023).

 Kepemimpinan KH. Abdul Gani Kasuba, selama 10 tahun menjadi kepala daerah, Pelayanan publik masih berada dalam kategori zona kuning, (Ombusman RI Malut, 2023). Rendahnya kualitas sumber daya manusia kepala daerah maluku utara, sehingga kehadiran investasi tak mampu di manfaatkan secara maksimal dalam pengelolaan sumberdaya alam di semua sektor. 

Peristiwa roling jabatan yang terjadi setiap saat, juga sangat menghambat terlaksannya suatu rancangan kebijakan pembangunan ekonomi. Maluku Utara sangat bergantung terhadap pendapatan dari transfer pusat dan bantuan lain dari pemerintah pusat. Fenomena ini telah menjadi penyakit klasik, Pemerintah Povinsi Maluku Utara. 

Total APBD Maluku Utara tahun 2022 hanya sebesar Rp. 3.088.705. Sangat kecil jika di bandingkan dengan pendapatan Rafi Ahmad. Didalamnya termasuk Pendapatan Asli Daerah (PAD) seebesar Rp. 700,79 M, (Info Publik 10 Juli, 2023). Fakta inilah yang membuat setiap intansi mengeluh dari tahun-ke tahun terkait keterbatasan anggaran.

 Investasi-investasi mercusuar dunia yang bercokol di Provinsi Maluku Utara, nyatanya tidak berdampak signifikan terhadap sektor utama penggerak ekonomi dan sumber utama yang menghidupi rakyat, seperti sektor pertanian, kehutanan dan perikanan. Terlihat bahwa sektor ini hanya tumbuh 5,01%, (BPS Malut, 2023). Mestinya ada upaya melalui kebijakan pemerintah, dalam memanfaatkan investasi tambang agar bersama-sama mentransformasi sektor pertanian dan perikanan yang masih tradisional menjadi industri modern.

 Dua sektor ini perlu di transformasi menjadi industri modern, sehingga punya nilai tambah dan memiliki daya saing di pasar nasional maupun internasional. Apabila pemerintah mampu menggandeng pihak swasta untuk melakukan transformasi dua sektor tersebut menjadi indutri modern, maka akan menjadi sumber pendapatan baru dan meningkatkan PAD, serta memperluas jenis lapangan baru bagi para petani dan nelayan. Secara otomatis, tingginya pertumbuhan ekonomi, akan sertai dengan tingginya prtumbuhan semua sektor perekonomian Maluku Utara.

 Setiap senapan/senjata yang dibuat, setiap kapal yang di luncurkan, setiap roket yang ditembakkan pada hakekatnya adalah suatu pencurian dari mereka yang menderita kelaparan dan yang tidak disantuni”, Dwight D Eisenhower, Presiden Amerika Serikat;). Kalimat ini jika di konversikan pada konteks Maluku Utara maka, “setiap batrei yang di produksi, mobil listrik yang di buat, pada hakekatnya adalah suatu pencurian/perampasan dari mereka yang menderita kelaparan akibat penggusuran, kemudian terusir dari tanahnya sendiri dan tidak di santuni. (*)

Komentar

Berita Terkini