-->
    |



Perjuangan Dan Wanita


Oleh : Ajid Tidore

Berpijak dalam petala bumi yang berliku.
Menghias hidup dijenjang yg penuh harap.
Merebut janji kehidupan yang kuasa bagi hamba, tuntutan diri sebagai anugrah
mengindahkan perjuangan demi menata
harapan di masa depan.

Tuhan memilihku dalam kebaikan untuk
dapat dikembangkan lewat ladang
proses yan g mulia bagiku. Diwaktu itu ketika bercita ingin seperti pilihan tuhan bagi yang lain yang diberi bekal ilmu untuk hamba-hambanya agar dapat bertanggung jawab sebagai manusia sejati yang dibekali
dengan pengetahuan.

Ada sebuah kisah meras mana, yang
membawaku jauh dari pasrah. Rupa belia wanita yang menyulapkan dunia kecilku hadir dengan keindahan dan memberi
pesona dari rasaku yg begitu betah percayaku padanya.

Hadir umpama gerimis yang memberi tahta kehidupan membasahi bilik hati yang remuk untuk mengalirkan suasana, itulah senangtiasa datang dari cara pandangnya.

Dengan ini dia telah membangunkan lelapnya tidurku dari gambaran kehidupan ini, elusan kasih dan cintanya menawarkan titis-titis air yang sungguh menyejukkanku, setiap titisannya menghidupkan jiwaku yang gersang, tiap titisannya juga syurga
bagiku.

Tak juga itu, dengan ketenangan dan pembemberi harapan baik bagiku
lewat pengorbanan yang tulus juga belas
kasih terhadapku, sehingga aku menempuh impian dengan mampu mencipta sejarah cita-citaku seperti yang sudah terangkai awal coretanku.

Percaya akan rasa ini begitu besar yang
membungkus kelengahan kehidupan yang
membawaku pada puncak perjuangan.

Pada tahun 1932 Albert Einstein menulis
surat kepada Sigmund Freud untuk
bertanyakan pendapatnya. Antara
kandungan suratnya berbunyi, apa yang
dapat dilakukan manusia agar terhindar
dari kutukan peperangan? pertanyaan itu
muncul barangkali kerana dunia pada
masa itu masih dihantui oleh Perang
Dunia Pertama yang mengejutkan
manusia diseluruh eropa, justru akibat
kerusakan dan penderitaan yang harus
ditanggung oleh mereka.

Sebagai seorang yang mempunyai keahlian ilmu jiwa, Freud menjelaskan dalam surat yang ditulis sebagai esei yang terkenal yaitu Why War (Mengapa Perang). Dia mengguraikan tentang adanya dua insting atau lebih mudah disebut sebagai sifat utama manusia itu insting cinta dan insting benci.

Berdasarkan percakapan A dan S, sejak itulah  peran kelebihan cinta dalam kehidupan. Kini aku temukan jiwaku yang sebernarnya, jati diriku yang sepenuhnya, melalui wanita berkrakter belia yang hadir dan memperkenalkanku pada dunia yang penuh dengan keputusasahan itu.

Dia adalah tangan tuhan yang datang berikan berkah untukku, Dia pula mengakhiri cerita yang aku sendiri kapan mulainya menjadi pengaruh yang mengibaratkanku bagai kekokohan bangunan yang tiada penghuninya.

Dia penerang disaat gelap
meraba hidupku, Dia bahagiaku, Dialah
perantara tuhan sebagai saksi yang
menunjukanku diamanakah perjuanganku.

Wanita kau adalah peta
Wanita kau membuat sejuta rasa***
Komentar

Berita Terkini