-->
    |

Telaah Tujuan HMI dan Spirit 5 Kualitas Insan Cita

 


Ariyanto A Gani

(Anggota HMI Cabang Tidore)

Saya ingin memulai tulisan ini dengan mengingat kembali buku yang ditulis oleh Said Muniruddin, mantan ketua HMI Cabang Banda Aceh (2000-2001), yang berjudul “ Bintang Arasy Tafsir filosofis Gnostik Tujuan HMI”. Pada BAB I buku tersebut, Cak Munir ( sapaan akrab said Muniruddin ) menulis sesuatu yang kritis dan tajam dengan sub judul “ Kampus dan Masa Depan Bangsa “. 

Pemaparan Cak Munir sangat mengugah pikiran saya. Ia bilang bahwa, kemajuan suatu bangsa, bukan tergantung pada letak geografis, luas wilayah, maupun jumlah penduduk. Negara yang memiliki jumlah penduduk yang banyak serta memiliki wilayah luas wilayah yang besar belum tentu mendapat kesejahteraan. Namun yang membuat sebuah negara bisa maju dan sejahtera ialah karena memiliki sumber daya insani yakni pemimpin dan rakyat yang cerdas. 

Pemimpin dan rakyat yang cerdas tentu tidak terbentuk begitu saja, namun bergulat dengan dunia pendidikan hingga ke perguruan tinggi. Namun di sini Cak Munir melihat bahwa, untuk sampai pada pemimpin dan rakyat yang cerdas seutuhnya, kampus belum mampu memfasilitasi secara menyeluruh. Hal ini karena banyak dosen di kampus yang tak lagi bisa menciptakan pemimpin dengan daya kritis, malah menciptakan budak produksi yang menghamba pada IPK serta mencurahkan ilmunya hanya untuk keperluan industri. 

Dosen hanya memenjarakan mahasiswa di dalam kelas dengan teorinya tanpa ada kebebasan berekspresi. Olehnya itu, untuk menutupi kelemahan kampus dalam menciptakan pemimpin masa depan bangsa, maka organisasi eksternal hadir sebagai jalan keluar, dan Himpunan Mahasiswa Islam ( HMI ) salah satunya.

HMI sebagai organisasi mahasiswa yang berdiri sejak 5 Februari 1947, tak pernah sedetikpun luput dari pengkaderan - pengkaderan untuk melahirkan pemimpin bangsa. Lafran Pane , sebagai pendiri HMI tentu memiliki alasan kuat untuk mendirikan organisasi ini. Sebagaimana dijelaskan dalam buku yang ditulis oleh A Fuadi, "Merdeka Sejak Hati", Lafran Pane mendirikan HMI karena kegelisahannya terkait penjajahan terhadap bangsa Indonesia serta mahasiswa Indonesia yang sudah terlalu jauh terpengaruh oleh pemikiran ke Barat-baratan dan semakin jauh dari agama. Maka, HMI berdiri sebagai jawaban akan kegelisahan itu.

Telaah Tujuan 

Sejak didirikan hingga saat ini, tujuan HMI selalu bertransformasi sesuai dengan tuntutan zaman. Di awal berdirinya, melalui kongres HMI pada bulan November 1947, HMI memiliki dua tujuan yakni, mempertegak dan mengembangkan agama Islam, serta mempertinggi derajat rakyat dan Negara Republik Indonesia. Tujuan ini berorientasi pada kepentingan agama, rakyat dan negara Indonesia. Tentu tujuan dirumuskan sesuai dengan kebutuhan bangsa saat itu.

Kemudian pada kongres Bandung, bulan Oktober 1955. Tujuan HMI berubah lagi, dan berbunyi "Ikut mengusahakan terbentuknya manusia akademis, pencipta, pengabdi, yang bernapaskan Islam. Tujuan ini dirumuskan karena pengurus HMI kala itu berangapan bahwa yang berproses di organisasi HMI adalah para mahasiswa, calon sarjana dan para cendikiawan, tidaklah tepat jika bergerak sebagai organisasi massa apalagi sebagai kekuatan politik praktis. HMI haruslah menjadi wadah untuk mendidik para kader menjadi individu yang cerdas dalam intelektual. 

Tak sampai disitu, tujuan HMI berubah lagi. Karena jika ditelusuri, insan akademis pencipta, pengabdi, dan bernapaskan Islam haruslah memiliki peran yang lebih lanjut dalam bermasyarakat. Bukan hanya untuk kepentingan pribadi kader itu sendiri. Oleh karena itu, pada kongres Palembang di bulan Oktober 1971 formulasi tujuan HMI ditambahkan redaksinya menjadi " Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi, yang bernapaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT".

Jika ditelaah lebih dalam tujuan ini memiliki dua arti yang cukup mendalam. Insan akademis, pencipta, pengabdi dan bernapaskan Islam , mengisyaratkan  bahwa kader HMI merupakan pejuang yang memiliki kemampuan intelektual yang mempuni untuk mengabdi kepada organisasi serta bergerak dengan asas Islam sebagai ideologi. Sedangkan bertanggungjawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang di ridhoi oleh Allah SWT. Adalah bentuk tanggung jawab sosial yang harus diemban setiap kader HMI sebagai bentuk ibadah sosial dari kader HMI itu sendiri. 

5 Kualitas Insan Cita

Dalam prespektif HMI, insan cita adalah mereka yang menjadi sosok ideal yang dibentuk dan dicapai melalui proses kaderasi yang panjang . Mereka yang disebut sebagai insan cita, adalah individu yang di dalam dirinya telah telah terdapat 5 kualitas Insan Cita, yakni insan akademis, insan pencipta, insan pengabdi, insan bernapaskan islam, dan insan bertanggungjawab atas terwujudnya masyarakat adil dan makmur. Adapun, penjabaran dari 5 kualits insan cita tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :

Pertama, insan akademis. Insan akademis bermakna bahwa seorang kader haruslah memiliki pendidikan yang mempuni, berpengetahuan luas, serta memiliki pandangan atas dasar pemikiran yang rasional dan kritis. Ia memiliki kemampuan teoritis serta mampu mengamalkan apa yang diketahui dan dirasakannya.

Kedua, insan pencipta. Maksudnya ialah seorang kader diwajibkan memilliki gagasan-gagasan yang berkemanjuan serta selalu membuat perbaikan dan pembharuan. Baik dalam organisasi maupun dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Dari insan pencipta ini, tak heran jika kita melihat mereka yang selesai ber-HMI, selalu membangun komunitas serta lingkungan belajar di tempat tinggalnya masing-masing.

Ketiga, insan pengabdi. Yakni insan yang sadar bahwa tugasnya bukan untuk membuat dirinya menjadi baik, namun pengabdian itu harus ditumpahkan sepenuhnya pada organisasi dan lingkungan sekitar .

Keempat, insan bernapaskan islam. Islam sebagai ideologi kader HMI, tentu harus mendarah daging disetiap langkah perjuangan. Kader HMI haruslah berhasil membentuk Unity of personality dalam dirinya. Semangat keislaman yang tertanam, bukan saja tentang peribadatan individu tetapi ibadah sosial, yakni berjuang bersama rakyat tertindas.

Kelima, kualitas insan yang bertanggung jawab atas terwudunya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT. Dalam hal ini, masyarakat adil makmur merupakan beban yang patut dipikul oleh setiap kader dalam  formulasi perjuangan organisasi. Dalam AD/ART , HMI bukan hanya berfungsi sebagai organisasi pengkaderan, pun juga berperan sebagai organisasi perjuangan. 

Kelima kualitas insan cita tersebut, haruslah mengakar pada setiap langkah kaki perjuangan, menjadi kompas dalam bergerak, serta menjadi spirit dalam setiap pergerakan. Meski begitu, perlu dipahami bahwa HMI hanyalah wadah, sarana, dan media bagi kader-kader yang ingin berproses serta mengaktualisasi potensi diri agar sampai pada 5 kualitas insan cita. Berhasil tidaknya seorang kader mencapai kulaitas insan cita, itu tergantung kepada dirinya sendiri, apakah ia mau bersungguh-sungguh atau tidak. (***)

 

 

 


Komentar

Berita Terkini