|

Kopra dan Anak Desa (Sepenggal Cerita)


Oleh : Yazhar Asis

"Seiring berkembangnya zaman,hari demi hari kebutuhan akan bahan pokok kian hari semakin melangit, petugas yang di berikan amanah seakan tak mampu di harapkan, berjuta suara teriakan nasib anak bangsa seakan menjadi cerita lelucon yang hanya asik di bahas dari warung ke warung, di manakah tumpuan harapan berada?.

Sebagai bagian dari anak bangsa dan lahir dari tanah para petuah, besar dengan didikan jutaan cerita laksana dongeng seorang anak muda. Desa tempat menggali kehidupan, membuat serta menampung sejarah masyarakatnya sendiri kini hilang tanpa bekas dengan cerita yg tak jelas. Ya begitulah.

Sejarah kita hanyalah dongeng menjelang tidur, anak desa terlantar, makan tanpa suap keringat hasil kekayaan alam desanya sendiri kini bergantung dengan nasib tak jelas.

KOPRA begitulah sebutan dari desa adalah sumber penghidupan bukan sumber permainan. Dengan kebiasaannya sehari- hari dikala sang fajar mulai nampak di atas dedaunan, terbangunlah anak muda itu bersiap dengan segala resiko yang bahkan dia pun tak tau apa yg akan terjadi nanti dalam hidupnya namun dengan bermodalkan semangat yg memabara di sertai nawaitu yang kuat, dengan sebuah botol berisikan air, anak muda itu mulai melangkahkan perlahan.

Kakinya ke dalam dahan ranting pepohonan kecil sembari memegang sebuah pedang di tangannya. Langkah demi langkah semakin cepat dari anak muda itu, sang fajar naik semakin tinggi di atas permukaan awan.

Jarum jam menunjuk pkl 09:00 sampailah anak muda itu di sebuah kebun berrimbunkan daun pohon kelapa, menarik nafasnya dalam sembaru berkata dalam hatinya sungguh apa yg kulihat adalah bagian dari sumber penghidupanku yang di berikan oleh Allah SWT.

Perlahan anak muda itu mulai melepas sebuah botol air yang di gantungkan di bahunya sembari menatap pohon kelapa. Dinaikilah perlahan pohon kelapa itu dengan tangga yang di buat sebelumnya ketika awal memetik buah. Langkah demi langkah perlahan di atas pohon kelapa dengan resiko jatuh entah patah atau bahkan matipun bukan menjadi satu ukuran bagi anak muda itu, yang terpenting baginya adalah buah itu bisa jatuh sampai ke tanah.

Begitulah, untuk menaiki satu buah pohon kelapa biasanya membutuhkan waktu lebih dari 10 menit. Jika terdapat 50-90 pohon kelapa maka bisakah kita bayangkan seberapa lelahnya anak desa yang itu naik kelapa menjatuhkan buah dari pohonya tersebut.

Kelapa yang jatuh akan di kumpulkan sebab akan berserakan ke semak-semak dan sulit di temukan, setelah di kumpulkan di belah dan di korek sampai pada tahapan pembuatan buah kelapa di jadikan Kopra adalah satu proses perbuatan yg cukup memakan tenaga dan biaya..!

Di setiap anak desa kehidupan yang seperti ini merupakan sebuah hal yang biasa. Sebab, ini merupakan sumber penghidupan anak muda desa.

Anak desa saat ini sedang terancam gagal melanjutkan studi sebab perekonomian sebagian besar anak desa sumbernya dari kopra, berupaya hidup dan keluar dari problem Kopra yang di hargai hanya -+ Rp. 1000-3000/kg ini dengan proses pembuatan yang banyak memakan waktu dan tenaga.

 harapa penuh setiap anak desa dalam kehidupanbahwa pemerintah yang di amanahkan tangung jawab bisa melihat nasib mereka yg penuh dengan permainan teka-teki bisnis dan politik. Balaginya tanaman yang di tanam adalah warisan masa depan namun frame berpikirnya hilang seketika ketika anjolknya harga kopra.

sungguh negeri yang kaya ini bukan milik kita, yangg kita jaga dan amankan selama ini adalah untuk para investor dan orang-orang ekonomi berdasi.

Anak desa itu berharap dari anjloknya harga kopra di atas semestinya pemda mampu melihat lebih serius masalah daerah, serta bisa  meminimalisir tingkat pemasokan dengan perda. Dan yang kedua pemda semestinya menghadirkan perusahaan yang mengelola kopra menjadi minyak siap pakai khususnya di daerah.

Komentar

Berita Terkini