Oleh :
Hairil (Pemuda Kelurahan Bobo)
Tulisan ini, ditulis dengan gagasan sehat yang terinspirasi dari sebuah penelitan kecil dengan tema : "Bobo Isa : Jejak Sejarah Ekspansi Sosial-Ekonomi dari Desa Bobo ke Halmahera Barat" oleh Alifan (Pemuda Kelurahan Bobo) dengan metode Observasi dan wawancara, secara sederhana.
Sejarah bukan sekadar tumpukan tanggal dan nama dalam arsip usang. Ia adalah urat nadi kebudayaan, napas kolektif masyarakat, dan cermin moral yang menuntun arah masa depan. Dalam denyut itulah kisah Desa Bobo Isa, kini bernama Suka Damai. Desa yang kini aktif secara administratif, tumbuh dari akar peradaban, perjuangan generasi pedahulu yang telah hibahkan energi dan usia mereka untuk menjajaki satu bagian kecil halmahera barat untuk tujuan masa depan yang hari ini dinikmati oleh anak cucu mereka.
Hemat saya, ini merupakan sebuah proses ekpedisi luar biasa hingga menjulang sebagai simbol kolaborasi lintas suku yang langka dan luhur. Inilah cerita tentang bagaimana sejarah dibangun tidak dengan senjata dan kuasa, melainkan dengan kasih sayang, ikhlas, dan kerja keras.
Pada tahun 1963, Desa Bobo didefinisikan secara administratif, namun hakikatnya telah lama eksis dalam denyut perjuangan masyarakat Tidore di Maluku Utara, semua orang Tidore tahu hal itu. Kala itu, pembangunan rumah bukan sekadar urusan arsitektur, tetapi manifestasi tekad untuk bertahan hidup dan bermartabat di tanah sendiri.
Dari kebutuhan papan, balok, dan kayu rumah, muncullah sebuah ekspedisi yang kelak menjadi babak penting dalam sejarah migrasi sosial, perjalanan warga Desa Bobo di Pulau Tidore ke Tanjung Nenas (Bagian dari dusun Akelaha) lalu menulusuri hingga daerah pedalaman halmahera barat. (Baca : Alifan - Desa Bobo Isa)
Almarhum Haruna Muhammad, atau Tete Runa dalam sebutan penuh hormat bagi kami generasi muda, bukan hanya seorang pengambil kayu, bukan hanya pembuka jalan. Ia adalah seorang arsitek peradaban. Di pesisir riak laut yanag damai dan bisikan hutan Halmahera Barat, ia melihat potensi lebih dari sekadar bahan bangunan untuk rumah. Almarhum Tete Runa melihat ladang penghidupan, bentang masa depan.
Di sana, di tanah suku Tobaru, terjadi peristiwa monumental yang layak dikenang. Dua bersaudara, Nikodemus dan Kisman Djawa, memberikan izin penuh kepada Tete Runa dan rombongannya untuk memanfaatkan hutan adat demi pembangunan masyarakat Bobo.
Izin itu bukan hanya tentang kayu. Itu adalah bentuk tertinggi dari peradaban adat kala itu, memberi tanpa pamrih, menerima dengan hormat. Suatu tindakan yang dalam bahasa ilmiah disebut hubungan sosial, menjadi pondasi “kontrak moral antarkelompok etnis (Tidore dan Tobaru)” yang jarang terjadi dalam sejarah konflik agraria Indonesia. Di sini, sejarah tidak dibangun dengan darah dan air mata, tapi dengan rasa saling percaya dan cinta kasih dalam ruang hidup yang tidak dibatasi oleh identitas.
Tahun 1979 menjadi momen transformatif. Alifan mengulas dalam tulisannya tentang 73 pemuda dikirim, bukan untuk merebut milik orang lain, tapi untuk merintis kehidupan. Dua kelompok dibentuk, Jala Ibi dan Bobo Isa, membelah hutan bukan dengan parang kolonialisme, tapi dengan cangkul, parang, keringat dan doa. Di bawah komando almarhum Ibrahim dan almarhum Kenau Sehat, mereka membuka lahan baru, membangun masjid, lapangan bola, dan rumah tinggal. Semua dilakukan dengan swadaya Rp 1.800.000, angka kecil dalam catatan bank, tapi raksasa dalam makna perjuangan.
Bobo Isa bukan tanah jajahan, bukan pula proyek pemerintah. Ia adalah anak kandung dari semangat kolektif warga Bobo yang datang dari Pulau Tidore.
Ketika kakao tumbuh, jagung subur, singkong dan hasil tani dibawa ke pasar Ternate, itu bukan hanya transaksi ekonomi, tapi pernyataan eksistensi bahwa kami hidup, kami bangkit, kami terus berkembang.
Namun seperti sejarah pada umumnya, dinamika administratif pun hadir. Pada 2013, Bobo Isa resmi menjadi desa sendiri dengan nama baru, Desa Suka Damai. Perubahan ini adalah peristiwa linguistik dan ideologis sekaligus. Dari sebuah nama yang merepresentasikan asal-usul, kini nama itu mengandung harapan abadi yakni kedamaian. Nama yang menegaskan bahwa sejarah Bobo Isa adalah pernikahan suci antara keikhlasan Tobaru dan keteguhan warga Bobo, ditandai oleh semangat hidup berdampingan dengan damai hingga saat ini.
Di tengah perubahan itu, muncullah pemimpin, Jafar Hamisi. Ia adalah pembawa obor nilai yang diwariskan oleh Tete Runa, para tetua sebelumnya. Dengan prinsip kejujuran, cinta kasih, dan loyalitas terhadap tanah airnya. Secara kolektif saat ini, masyarakat sadar bahwa pembangunan bukanlah urusan batu dan semen, tapi soal etika dan keteladanan. Jafar dalam ulasan Alifan, mengutip pesan Tete Runa dalam bahasa Tidore :
“Soninga! Gahi gam ge gati gahi gura, gure hisa laha-laha, ua soho susu oyo joro.” (Ingat! Membangun wilayah (Perkampungan) itu seperti berkebun, pagari dengan baik agar tak dimakan hama babi hutan)
Kalimat itu lebih dari petuah, tersirat sebagai filosofi peringatan, filosofi pembangunan dalam konteks pembangunan desa hari ini, "babi hutan" bisa berarti korupsi, perpecahan, atau lupa asal-usul. Karena pembangunan yang tak berpagar moral akan dirusak oleh kerakusan, oleh sumber kekacauan dari luar.
Saat ini, warga Suka Damai memiliki tanggung jawab moril untuk menjaga hubungan baik antara warga Akeara (Suku Tobaru) dan warga Tidore. Baca : (Berkunjung ke Desa Suka Damai dan Desa Akeara, Kecamatan Jailolo Selatan, Halmahera Barat (2))."
Ketika dunia sedang dilanda amnesia sejarah dan sibuk mengejar akselerasi tanpa arah, Suka Damai menawarkan alternatif. Sejarah yang hidup, yang menjadi guru, bukan sekadar arsip. Kisah ini menunjukkan bahwa pembangunan sejati tidak mungkin lahir dari dominasi, melainkan dari kolaborasi. Tidak mungkin abadi jika tak dilandasi kejujuran dan penghormatan atas tanah dan leluhur.
Sebagai generasi baru yang menikmati hasil dari peluh para pendahulu, kita punya dua tugas suci. Pertama, melanjutkan pembangunan dan menjaga sejarah. Karena sejarah bukan milik masa lalu, tapi pelita bagi masa depan, dan pelita itu harus kita jaga dari padamnya kesadaran.
Kedua, jangan pernah lelah mencatat, menyusun, dan merawat sejarah, karena bangsa yang kehilangan jejaknya akan tersesat di tengah kemajuan yang membutakan. (*)