Jika kita menilik sebuah akronim besar yang sarat makna "Mata Air Keteladanan". Akronim ini layaknya di sematkan kepada Adnan Husen sebagai seorang yang terus menjadikan bahasa ibu sebagai pesan yang terus di rawat dalam sanubari seorang anak.
Cerita tentang Sula dan tradisinya ia petik dari cerita ibu yang tak pernah putus. Bagi Adnan sesuatu yang terus menerus di ceritakan akan membekas menjadi ingatan, menjadi tanggungjawab yang harus di tunaikan.
"Umi saya itu, selalu bercerita tentang Sula, Dofa dan akan terus di ceritakan sebelum tidur sampai bangun tidur".Ungkap Adnan, Rabu (29/4/2026).
Menurut Adnan, suatu tradisi yang pernah dilakukan harus terus di ulang agar menjadi pengingat untuk kita semua dan generasi yang akan datang.
Seperti, Tradisi Gabalil Hai Sua yang merupakan ritual sakral masyarakat di Kabupaten Kepulauan Sula yang dilakukan dengan berjalan mengelilingi Pulau Sulabesi wajib terus di ingat.
Bukan hanya lebih dari sekadar perjalanan fisik, tradisi ini mengandung nilai budaya, spirituali, serta penghormatan mendalam kepada para leluhur.
Bagi Ko Nan, Sula bukan sekadar kampung halaman. Sula adalah nadi, adalah denyut yang terus mengalir bak membawa pulang cinta pada tempat di mana memori kolektifnya berlabuh.
Sehingga, Gabalil Hai Sua menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Sula, khususnya bagi mereka yang hendak membuat Najar dalam satu tarikan nafas untuk merantau mencari pekerjaan maupun menempuh pendidikan.
Ritual ini dipercaya sebagai bentuk penyucian diri sekaligus permohonan perlindungan adat selama menjalani kehidupan di perantauan.
Dalam perkembangannya, tradisi ini juga diakui sebagai bagian dari pengetahuan tradisional masyarakat Sula. Pemerintah daerah sempat mengangkatnya dalam festival budaya yang pertama kali digelar pada 2019. Namun, selama enam tahun terakhir, kegiatan tersebut tidak lagi dilaksanakan.
Pada tahun 2026, semangat untuk menghidupkan kembali Gabalil Hai Sua muncul dari salah satu putra daerah, Adna Husen. Ia menginisiasi kembali kegiatan ini bersama panitia, dimulai dari peluncuran logo resmi hingga rangkaian kegiatan sosial.
Adnan, yang saat ini berdomisili di Jakarta, mengaku terinspirasi dari cerita sang ibu yang terus menanamkan kecintaan terhadap tanah Sula.
“Ini kegiatan yang dulu rutin dilakukan orang tua kita. Saya sering mendengar cerita dari umi tentang Sula, tentang desa-desa, termasuk Gabalil Hai Sua. Dari situ muncul keinginan untuk menghidupkan kembali tradisi ini".Ujarnya.
Ia menuturkan, sang ibu memiliki kecintaan yang besar terhadap tanah kelahirannya. Bahkan dalam keseharian, cerita tentang Sula selalu menjadi bagian dari kehidupannya.
“Umi saya sudah tua, tapi semangatnya luar biasa. Mau tidur cerita Sula, bangun juga cerita Sula. Dari situlah saya merasa punya tanggung jawab untuk menghadirkan kembali tradisi ini,” tambahnya.
Menurut Adnan, sebelum merealisasikan kegiatan tersebut, dirinya juga berdiskusi dengan sejumlah pihak yang memiliki pengalaman dalam penyelenggaraan event budaya.
Hasilnya, Gabalil Hai Sua kini tidak hanya menjadi ritual, tetapi juga dikemas sebagai bagian dari kegiatan budaya yang melibatkan masyarakat luas, termasuk pembagian santunan atau sembako.
Ia berharap kegiatan ini dapat menjadi agenda rutin serta mampu menarik perhatian masyarakat Sula, baik yang berada di kampung halaman maupun di perantauan.
“Ini bukan sekadar kegiatan budaya, tapi juga panggilan pulang bagi orang Sula, ‘Sua Wel Bihu’. Kami ingin saudara-saudara yang ada di rantau bisa kembali, apalagi jika memiliki rezeki lebih,” ujarnya.
Adnan bahkan mencontohkan, ada anggota keluarganya yang telah puluhan tahun tidak kembali ke Sula, namun termotivasi untuk pulang setelah adanya kegiatan ini.
Dengan demikian, Gabalil Hai Sua mengajarkan satu hal, bahwa perjalanan bukanlah tentang tujuan, tapi tentang apap yang kita jaga di sepanjang jalan. Selama langkah itu masih ada, selama cerita itu masih di ceritakan, tradisi ini akan terus hidup. Sukses Gabalil Hai Sua, dari Sula untuk Dunia. (IB).
