Oleh:
Mohtar Umasugi
(Kordinator Presidium MD KAHMI Kepulauan Sula)
Ada kehormatan yang tidak selalu dapat diukur dengan tepuk tangan, tetapi dengan besarnya tanggung jawab yang menyertainya. Bagi saya, ketika menerima undangan untuk menyampaikan sambutan sebagai Koordinator Presidium MD KAHMI Kabupaten Kepulauan Sula pada pelantikan Pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Sanana, saya menyadari bahwa yang sedang saya hadapi bukan sekadar sebuah forum seremonial organisasi. Saya sedang berdiri di hadapan estafet sejarah, menyaksikan tongkat perjuangan berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Tema yang diusung, "Reaktualisasi Stilasi Peran HMI sebagai Prospek Masa Depan Kabupaten Kepulauan Sula untuk Menjemput Indonesia Emas 2045," menurut saya bukan hanya indah secara konseptual, tetapi juga sarat dengan tanggung jawab intelektual. Tema ini mengandung pertanyaan besar yang harus dijawab oleh seluruh kader HMI, apakah HMI masih mampu menjadi pelopor perubahan sebagaimana yang dicita-citakan para pendirinya, atau justru akan larut dalam rutinitas organisasi tanpa meninggalkan jejak peradaban?.
Ketika berdiri di mimbar, pikiran saya melayang pada sejarah panjang HMI yang didirikan oleh Lafran Pane. Di tengah situasi bangsa yang baru merdeka, Lafran Pane memilih jalan kaderisasi sebagai investasi terbesar bangsa. Ia percaya bahwa membangun manusia jauh lebih penting daripada sekadar membangun gedung. Sebab gedung dapat runtuh oleh waktu, tetapi manusia yang berintegritas akan terus membangun peradaban.
Pesan itulah yang saya sampaikan kepada para pengurus yang baru dilantik. Kepengurusan adalah amanah, bukan fasilitas. Jabatan adalah ladang pengabdian, bukan ruang untuk mencari popularitas. Sejarah organisasi tidak pernah mencatat berapa banyak spanduk pelantikan yang dipasang, tetapi selalu mengingat gagasan besar dan karya nyata yang ditinggalkan oleh para kadernya.
Saya juga mengajak seluruh kader HMI Cabang Sanana untuk membaca kembali tantangan Kabupaten Kepulauan Sula secara jujur dan objektif. Daerah ini dianugerahi kekayaan laut, perikanan, pertanian, kehutanan, dan potensi pariwisata yang luar biasa. Namun di sisi lain, kita masih dihadapkan pada persoalan peningkatan kualitas pendidikan, layanan kesehatan, penguatan ekonomi masyarakat, penciptaan lapangan kerja, pemerataan pembangunan antarpulau, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia. Potensi yang besar tidak akan berarti apabila tidak diiringi dengan kepemimpinan yang visioner dan masyarakat yang memiliki kapasitas untuk mengelolanya.
Dalam kesempatan tersebut saya kembali mengingatkan bahwa visi besar Indonesia Emas 2045 tidak akan lahir hanya karena bonus demografi. Bonus demografi baru akan menjadi kekuatan apabila dipersiapkan melalui pendidikan yang berkualitas, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, kepemimpinan yang berintegritas, serta budaya kerja yang produktif. Di sinilah HMI memiliki ruang pengabdian yang sangat strategis.
Saya teringat pemikiran yang selalu menempatkan tradisi intelektual sebagai jantung gerakan mahasiswa. Organisasi mahasiswa akan kehilangan maknanya apabila berhenti membaca, berhenti menulis, berhenti berdiskusi, dan berhenti menawarkan solusi. Kritik memang penting, tetapi kritik yang tidak disertai gagasan hanya akan menjadi suara yang hilang ditelan waktu.
Saya juga mengutip pandangan bahwa kader HMI harus memiliki kemampuan berpikir strategis. Jangan hanya menjadi generasi yang sibuk merespons masalah, tetapi jadilah generasi yang mampu membaca masa depan dan menyiapkan solusi sejak hari ini. HMI harus melahirkan pemimpin yang mampu mengubah tantangan menjadi peluang bagi kemajuan daerah.
Lebih dari itu, saya mengajak para kader untuk kembali menghayati Lima Kualitas Insan Cita HMI. Menjadi insan akademis berarti terus belajar sepanjang hayat. Menjadi insan pencipta berarti berani melahirkan inovasi. Menjadi insan pengabdi berarti hadir bersama rakyat. Menjadi insan yang bernafaskan Islam berarti menjadikan nilai keadilan, kejujuran, dan kemanusiaan sebagai pedoman. Dan menjadi insan yang bertanggung jawab berarti tidak pernah berhenti memperjuangkan masyarakat adil dan makmur yang diridai Allah SWT.
Bagi saya, pelantikan tersebut bukan hanya tentang siapa yang menjadi ketua atau sekretaris. Yang jauh lebih penting adalah apakah dari ruang kaderisasi HMI Cabang Sanana akan lahir bupati, akademisi, pengusaha, ulama, hakim, jaksa, dosen, birokrat, aktivis, dan pemimpin masyarakat yang mampu membawa Kabupaten Kepulauan Sula keluar dari berbagai keterbatasan menuju daerah yang lebih maju dan sejahtera.
Saya meyakini bahwa sejarah daerah ini tidak hanya ditentukan oleh kebijakan pemerintah, tetapi juga oleh kualitas organisasi yang mampu melahirkan manusia-manusia terbaiknya. Karena itu, MD KAHMI sebagai rumah para alumni memiliki tanggung jawab moral untuk terus mendampingi HMI, menjaga tradisi intelektual, memperkuat kaderisasi, serta membuka ruang kolaborasi antargenerasi. HMI dan KAHMI bukanlah dua entitas yang terpisah, melainkan dua mata rantai perjuangan yang saling menguatkan.
Ketika saya mengakhiri sambutan, saya tidak hanya melihat wajah-wajah pengurus yang baru dilantik. Saya melihat harapan Kabupaten Kepulauan Sula yang sedang tumbuh. Saya melihat calon-calon pemimpin masa depan yang suatu hari akan menentukan arah pembangunan daerah ini. Dan saya percaya, apabila idealisme terus dijaga, integritas tetap dipertahankan, serta tradisi intelektual tidak pernah padam, maka HMI Cabang Sanana akan terus menjadi salah satu pilar penting dalam melahirkan generasi yang mampu mengantarkan Kabupaten Kepulauan Sula memberikan kontribusi nyata bagi terwujudnya Indonesia Emas 2045.
Sebab pada akhirnya, pelantikan hanyalah awal dari perjalanan. Yang akan dikenang oleh sejarah bukanlah megahnya acara, melainkan sebesar apa manfaat yang diberikan kepada umat, bangsa, dan daerah. Itulah hakikat kaderisasi HMI, dan itulah pula pesan yang ingin saya titipkan kepada seluruh kader HMI Cabang Sanana "teruslah menjadi penjaga nurani, penggerak perubahan, dan pelayan masyarakat". Yakin Usaha Sampai.
