-->
    |

PATAH PENA


 
Sumber : Ervakurniawan.Worldpress.com

 Oleh : SURYANI UMATERNATE


Satu tahun sudah persahabatan mereka terjalin. Begitu banyak liku-liku, senang dan susah telah dilewati bersama.  Persahabatan mereka bermula ketika menduduki bangku kelas tiga Sekolah Menengah Atas (SMA). Tingkat akhir masa sekolah yang akan terekam jelas dari perjalanan hidup sebelum mereka melanjutkan ke kehidupan baru yang bernama bangku kuliah. Sehingga, pemikiran mereka sering beradu tentang bagimana dunia perkuliahan yang mereka hadapi dengan tanda tanya besar di benak.
 
Dari situlah mereka bertekad untuk giat belajar. Setiap jam istrahat mereka selalu menghabiskan waktu berjam-jam di perpustakaan.  Membaca buku-buku yang mungkin berbeda-beda. Tetapi, guru mereka selalu menyarankan “ kalau boleh jangan kalian berpikir tentang dunia perkuliahan terlebih dahulu sebab, masih ada beberapa tahapan yang harus kalian lewati sebelum sampai ke bangku perkuliahan yakni Ujian Akhir Nasional. , kata Bu Mida

Keinginan menggebu-gebu tentang dunia perkuliahan mereka kurangi dan memilih mengfokuskan diri menyelesaikan tahapan ujian yang tak lama lagi mereka hadapi. Mulai dari kerja kelompok dan les privat yang di buat oleh guru-guru  bidang study di sekolah.  Karena mereka juga berpikir bagaimana caranya mereka bisa masuk ke satu Universitas tanpa izasah SMA.
 
Dalam keseharian ke empat sahabat ini selalu bersama. Persahabatan mereka dibaluti dengan suasana keakraban, keseruan dan sangat menyenangkan sehingga membuat ikatan persahabatan mereka semakin menguat dan kokoh. Untuk mempererat persahabatan mereka, lahirlah satu inisiatif untuk membentuk logo dan slogan yang terpampang indah di kaos yang mereka kenakan sehari-hari.  

Beberapa bulan kemudian mereka telah dihadapkan dengan ujian praktek.  Para guru di sekolah mereka tahu betul ke empat siswa mereka merupakan sahabat baik yang melakukan aktivitas sering bersama-sama. Oleh karena itu, dalam kegiatan praktek kali ini mereka harus di pisahkan oleh Bu Mida. Sebenarnya mereka agak kesal dengan perlakuan Bu Mida yang sama sekali tidak mengerti perasaan mereka. Harapan mereka dalam pembagian kelompok, mereka nantinya akan menjadi satu tim. Dengan wajah yang amat kusut, bete dan berat hati, mereka tetap menerima keputusan tersebut

Raut wajah Fita masih begitu kesal saat pembagian kelompok mata pelajaran fisika. Kesal kenapa harus terpisah satu sama lain. Menurutnya sangat tidak efektif, sebab bukan kali ini saja ia terpisah saat pembagian kelompok, tetapi sudah berulang kali terjadi. Belum lagi reda kekesalannya, Ia harus menerima kenyataan menyakitkan lainnya. Pada pembagian kelompok pada mata pelajaran keterampilan keterampilan lagi-lagi rita harus terpisah dengan tiga sahabatnya yakni Yani, Fira dan Titin yang sangat beruntung sekelompok
.
Fita mulai kesal dan marah-marah setelah pembagian kelompok selesai. Kemarahan Fita kali ini menjurus tepat ke ketiga sahabatnya dan menuduh seakan-akan ketiga sahabatnya yang tidak ingin sekelompok dengan nya dan cenderung mengatur agar ia tidak dipilih menjadi satu tim, padahal pembagian kelompok saat itu di tetapkan guru yang memang mereka tidak seorang pun dari mereka mampu mengintervensi. Tapi tiga sahabatnya hanya diam mendengar omelan dan keluh kesahnya, karna mereka tahu watak Fita seperti apa.

“Kalian begitu senang sebab dalam kelompok kalian banyak anak yang rajin dan pintar masak.Tapi kalau dalam kelompokku banyak yang malas, adapula ketika di suruh sering membentak”ujar Fita dengan raut wajah sedikit mengeluh. 

Sabar Fita itu hanya sementara, lagian kelompok masak-masak inikan hanya sehari. Ketika selesai masak kemudian dibawa ke Sekolah lalu makan bersama selesailah sudah kenapa harus di permasalahkan ” cakap Titin sambil menenangkan Fita. “iya lagian makannya kan bersama di sekolah dalam ruangan yang sama pula kenapa harus sedih nanti juga pas makan kita makan bersama” sambung Fira untuk menyenagkan perasaan sahabatnya itu.

Tahap pertama telah mereka lalui, kemudian masuk pada tahapan kedua yaitu ujian sekolah. Sebelum berlangsungnya ujian sekolah ,diadakan pembagian ruangan terlebih dahulu. Yani, Fira dan Titin tergolong dalam satu ruangan, sementara Fita masih tetap bernasib apes dan lagi-lagi terpisah dari sahabatnya. “Mungkin saja Fita akan marah lagi pada kita bertiga” kata Yani sambil tertawa, sebab ia selalu saja terpisah dari kita. “Biarlah ”jawab Titin dengan santai.

Hari berlalu begitu cepat tak terasa ujian hari pertama pun dimulai. “Oh My God (Ya Tuhan), Apakah ini mimpi? Tanya Yani penuh keheranan. “Kenapa?” tanyaFira. “Ujian akan dimulai, aku merasa seperti tidak mempunyai persiapan apa-apa untuk menghadapi ujian ini” jawab Yani dengan rasa cemas. “Hahaha” Fira tertawa terbahak-bahak. Ditengah percakapan tersebut mereka bertiga dikagetkan dengan bunti bel pertanda ujian akan segera di mulai. Mereka pun bergegas tergesa-gesa sambil menahan napas tanda kegugupan menyelimuti menuju ruangan yang telah mereka ketahui sebelumnya. 

“Waktunya pertempuran melawan selembar kertas di mulai” ujar Titin dengan tegang. Namun Yani dan Fira hanya diam mendengar perkataan Titin. “sebab melawan selembar kertas adalah satu kalimat yang gampang di ucap tetapi sulit untuk di kerjakan lirih Yani. Dalam beberapa menit di kehidupan mereka inilah pertempuran yang harus mereka menangkan. Sunyi senyap dan hanya terdengar suara bolak-balik dari kertas ujian serta bunyi goresan pensil menjadi nyanyian di ruangan kelas berukuran standar tersebut. Sebelum, bel tanda ujian hari pertama selesai. “Legah sungguh legah ketegangan yang terjadi sudah berkurang, siap bertempur pada hari ke dua, ujar yani dalam hati.

Hari kedua berlangsung, di tandai dengan semangat membara, Yani masuk kedalam ruangan dengan penuh percaya diri. Ujian berlangsung beberapa menit, lembar-lembar soal dan kertas jawaban mulai di kerjakan dengan serius oleh para siswa begitupun dengan yani sebelum akhirnya ia mulai merasa kehilangan semangat. Penyakit yang ia derita kambuh di waktu yang tidak tepat yakni pada saat ujian berlangsung. Wajahnya begitu lemah bercampur sedih. Keringat dingin mulai membasahi hampir separuh badannya sebelum akhirnya di sadari oleh pengawas ujian yang tak lain adalah guru bimbingan kelasnya semasa tingkat I. Wanita berparas cantik yang biasa di sapa “Miss” ini sedari tadi memperhatikan gerak geriknya, sebelum berjalan ke arah yani yang nampak kepayahan.

 “What’s wrong with you Yani” tanya Miss dengan aksen Inggrisnya yang kental. “No Miss, pinggang dan tanganku sangat sakit hingga tak mampu ku gerakan jari dan tanganku untuk  untuk menulis” jawab Yani sambil meneteskan air mata dikedua belahan pipinya. Sementara itu ia melihat semua teman-teman yang ada diruangan ujian melepas pensil dan menatapnya penuh rasa kasihan karena mereka juga tau sakit yang selama ini Yani alami. “Ayoo yang lain tolong bantu Yani, antar ia ke ruang kepala sekolah” perintah Miss pada teman-temannya.

Titin dengan sigap menghapiri Yani dan merangkul tangannya lalu mengantarnya ke ruang Kepala Sekolah. Di ruangan Kepala Sekola para guru sempat kaget melihat kondisi yani. “Yani kamu kenapa? Mengapa ini bisa terjadi? Namun, Yani hanya diam tak menjawab sepatah kata pun pertanyaan dari guru-gurunya. Sebelum akhirnya Kepala Sekolah mengambil keputusan memulangkan yani untuk beristirahat.  Ujian hari ketiga, yani sudah bisa mengikuti ujian walaupun kondisinya masih belum sehat, akan tetapi tidak seburuk kemarin ketika ia harus di papah pulang kerumah dengan keadaan kepayahan.

Setelah menjalani serangkaian ujian yang menguras tenaga, pikiran dan raga, Titin mengajak ke empat sahabatnya bertamasya tetangga untuk referesing dari kelelahan yang mereka hadapi. Di sana banyak tempat yang menarik untuk kita manfaatkan berfoto-foto, dan mengeksplor keindahan alamnya sahabatku” kata Titin yang juga salah satu penggemar kamera. “Kalau aku sih oke-oke saja” ucap Yani dengan santai.

Tanpa di sadari ajakan Titin terdengar oleh teman-teman sekelasnya. Maklum saat itu mereka sedang asik berbagi cerita di ruangan kelas yang telah mengisi tiga tahun kehidupan sekolah mereka. “Kenapa hanya kalian berempat?, seharusnya kita seangkatan harus pergi bersama-sama” kata Samsul memberi usulan. Usulan Samsul itu di setujui oleh seisi kelas dan tamasya yang di rencakan hanya berempat menjadi tamasya seisi kelas.
***

Ketegangan menghampiri keempat sahabat itu, hari ini begitu menegangkan. Raut wajah siswa – siswa yang hadir di sekolah pun demikian sama. Sambil berpegang tangan, dan berdoa dalam hati mereka siap mendengarkan sambutan dan serangkaian acara yang di lakukan pada acara pengumunan kelulusan mereka. Ketegangan itu mencair menjadi kebahagian, haru, dan girang setelah kepala sekolah menyatakan mereka semua lulus. “Alhamdulillah“ ucap kompak keempat sahabat itu bersamaan.

Dengan rasa haru air mata bahagia mulai menetes tiada henti, mereka mulai merenungkan kesalahan-kesalahan yang selama tiga tahun terakhir mereka buat bersama baik pada teman dan para guru. Rasa sesal menghinggapi mereka di tengah kepungan kegembiraan. Sesal karena pernah melakukan kesalahan ketika mereka berseragam abu-abu, sebelum akhirnya mereka bergegas menemui mereka dan meminta maaf.

Dear my teacher :Thank’s for You theory for our, we love You Teacher because you are the best teacher for our. from your student’s (Untuk guruku : Terima kasih atas ajaran kalian untuk kami. Kami mencintai kalian guru, karena kalian adalah guru terbaik untuk kami). Dari murid kalian.
.........................................................................................................................
“Kini saatnya kita akan terpisah sahabat” kata Yani “iya kita terpisah untuk meraih impian-impian gila kita jawab Titin dengan wajah sedih. “Ingatlah sahabatku, tiada arang melintang yang mampu memutus persahabatan ini, bahkan ketika laut dan gunung sekalipun. Ingatlah di depan sana akan ada kehidupan asing yang harus kita lalui,  sendiri di tengah manusi-manusia yang siap menjegalmu, maka pasanglah telinga kalian ketika aku berteriak memanggil, siapkan lengan kalian ketika aku ingin bersandar dan kuatkan langkah kaki kalian karena kita mampu menompang satu yang lain, jika kaki ku tertatih-tatih menuju impianku maka bantu aku, dorong aku hingga di impianku ada nama-nama kalia”. Ujar Yani sambil meneteskan air mata.

Bidan, guru, pekerja kantor adalah impian yang selalu mereka dengungkan di masa putih abu-abu. Yani, Fira dan Titin kali ini memilih universitas yang sama, yakni Universitas Khairun Ternate. walaupun hasilnya Titin belum dinyatakan lulus dan harus merelakan impian nya mengenal dunia pendidikan yang lebih tinggi dan memutuskan pergi ke Kota Manado. 

Sementara Yani dan Fira mulai di sibukan dengan pengurusan administrasi kampus. Banyak kendala-kendala yang mereka dapati, terlebih lagi Yani yang di hadapkan dengan kendala yang membuatnya bingung.

 “Fira pengurusanku sampai sekarang belum selesai soalnya emailku bermasalah, sehingga tidak dapat mengupload data untuk wawancara online.” Cakap Yani penuh gelisah. “Sabar, semua itu pasti ada jalan keluarnya” jawab Fira. “Ia, tetapi jika tidak dapat mengupload data nanti aku akan di tetapkan pada kategori yang biaya kuliahnya sangat mahal, dan bisa saja aku tidak akan bisa melanjutkan kuliah tahun ini. Sebab aku mempunyai kakak lelaki yang akan wisuda nanti di akhir tahun yang tentunya membutuhkan biaya besar. Imbuh Yani hampir meneteskan air mata. “Teruslah mencoba, jika memang tetap tidak berhasil, bersabarlah sebab masih ada tahun berikutnya untuk kamu melanjutkan study yang kamu inginkan” cakap Fira sambil menyemangati Yani.

Pada hari penutupan Yani di hadapkan pada masalah yang tidak ia inginkan. Hasil UKT menempatkan Yani pada kategori -5. Beban menghampiri, Karegori 5 sangat amat berat bagi dirinya. Pergulatan batin menghampiri, menangis, kecewa menjadi kesehariannya. Walaupun di satu sisi semua sahabatnya tidak satupun mengetahui. Ditengah-tengah kesedihan yang  menggerogotinya tiba-tiba handponenya berbunyi. “Hallo, terdengar jelas suara yani kegirangan. “teman-teman aku lulus pada tes akhir. Aku di tetapkan pada jurusan Gizi” kata Fita yang telah membuat panggilan konferensi pada Yani, Titin dan Fira.

“Alhamdulillah selamat atas keberhasilanmu. Kalau aku lulus pada jurusan Ilmu Komunikasi” kata Titin dengan penuh semangat. “Iya sama-sama, alhamdulillah akhirnya jurusan yang kami inginkan akhirnya telah tercapai. Eeh… dimana Yani sama Fira?” tanya Fita keheranan. “Hadirrrrrrr” jawab Yani dan Fira bersamaan. “Selamat untuk Fira yang akan menjadi calon ibu guru Matematika, dan juga untuk Yani yang akan bekerja di kantor” ucapan selamat dari Titin. “Entahlah mereka semua bersemangat dengan jurusan yang telah mereka inginkan, tapi aku mungkin belum bisa melanjutkan kuliah pada tahun ini” lirih Yani dalam hati.

Tak lama kemudian panggilan pun berakhir. Sementara Yani termenung dalam kesendirian diruang yang hampa sebab kemungkinan besar memupus keinginannya untuk melanjutkan kuliahnya tahun ini. Dengan berbagai cara yang telah di lakukan oleh kakaknya namun samua tidaklah berhasil, ia sempat berputus asa dan pasrah mungkin belum saatnya ia melanjutkan kuliah. Ia selalu menyembunyikan semua masalah itu dari sahabat-sahabatnya.

Perjalanan begitu cepat berlalu, sahabat-sahabatnya telah menjalani runtinitas sebagai seorang mahasiswi. Bertemu teman-teman baru, hingga lupa pada persahabatan yang mereka jalani. Banyak desas-desus hinggap di telinga mereka, akan sahabat-sahabat yang kini mulai berubah. “Kata teman-teman yang lain Fita semakin berubah, tetapi Yani, Firadan Titin tidak perduli, sebab mereka maklumi aktifitasnya sebagai mahasiswa baru, mungkin ia lagi sibuk pengurusan sehingga belum sempat memberi kabar.

Pada suatu hari Titin menelepon Yani. Lagi-lagi dengan panggilan konferensi yang telah ia buat. “Hallo” Yani mengawali percakapan. “Hallo jawab Titin sambil berkata Yani silahkan bicara, sudah tersambung dengan Fira, kemudian kata Titin ada berita baru. “Berita baru tentang apa?” tanya Yani penuh kebingungan. “Kalian ketinggalan info, aku baru saja mendapat info tentang Fita. Kata teman-teman lain Fita sudah semakin berubah karena mempunyai teman-teman baru. Kemarin aku sempat pergi ke kosnya tetapi ia sama sekali tidak berbicara denganku seakan-akan aku orang yang baru ia kenal” kata Fira sedikit kesal

“Begitulah pribadi masing-masing orang dan mungkin itu adalah kepribadiannya”. Kalian yang sesama mahasiswa saja tingkahnya seperti itu, apalagi denganku yang belum kuliah, seperti apa jadinya? “kata Yani, sambil melanjutkan, aku juga sempat mendengar dari beberapa teman-teman bahwa Fita sudah semakin berubah, tapi aku hanya diam dan mendengarkan saja.

“Ya biarlah… Dan untuk kamu Yani saat ini memang kami yang duluan kuliah di banding kamu, tapi ada saatnya untuk kamu akan melanjutkan kuliahmu, bersabarlah jangan pernah merasa sirik dengan kami, kami tetaplah sahabatmu, memang betul kami yang akan melanjutkan study duluan tetapi belum tentu kami yang akan sukses duluan. Sering-sering datang berkunjung, biar kita bisa bersama-sama berbagi canda dan tawa” cakap Fira sekaligus memberi semangat pada Yani.

“Ketika Yani mendengar apa yang barusan disampaikan oleh sahabatnya, Air matanya mulai menetes membasahi kedua bulatan pipinya sembari berkata terima kasih untuk kalian yang telah memberiku semangat serta mengajarkanku betapa pentingnya arti persahabatan ini” kalian adalah sahabatku, sahabat yang benar-benar membuatku bangkit mengejar mimpi yang kadang tak ingin lagi ku impikan. Sahabat yang ketika diriku terhempas dalam kesedihan, kalian telah lebih dulu menangkapku...terima kasih sahabatku...pip..pip..percakapan hari itu di warnai berbagai pesan dan kesan buat Yani.

Dalam benak Yani, persahabatan itu tidak dilihat dikalah sukses ataupun tidak. Mana kaya dan miskin. Akan tetapi persahabatan itu diukur seberapa pentingnya kita saling menghargai dan saling  memberi suport antara satu sama lain, saling mendukung, dan saling mengingatkan betapa pentingnya hubungan manusia dengan agama yang dianut, itulah yang di sebut sahabat Dunia akhirat.(*)
Komentar

Berita Terkini