-->
    |



Surat Kecil Buat Mentor Politik


Oleh : Arman Buton

Tuan,
Demokrasi bersih yang kami ingin,
Politik santun yang kami mau.

Tuan,
Kami ingin ketenangan,
Kami ingin kedamaian,
Ingin ketentraman,
Sesederhana itu.

Tetapi tuan,
Fakta dan potretnya berbeda,
Jauh berbeda dari makna, dari nilai demokrasi dan politik yang kami ketahui.

Tuan,
Yang terjadi, seolah-olah tak ada yang hitam-putih, kecuali untuk menang dan kalah, dan mungkin itu sebabnya orang sangat tertarik pada hal itu.

Tuan,
Suhunya, dipoles sedemikian rupa,
sehingga arenanya menjadi magnet untuk menyedot perhatian semua khalayak.

Tuan,
Sialnya, sekema, isu dan propaganda yang tuan dan lawan tuan mainkan terlalu begitu agresif dan membabi buta. Hal ini, lalu seakan menjadi virus yang menyandra otak Kami ; sopir angkut, ojek, pedagang kaki lima hingga pak tani, buruh, nelayan. Dan, sebagin besarnya terhipnotis untuk turut mengambil andil didalamnya, menjadi pasukan siap tempur, "boneka tuan".

Tuan,
Jangan sita waktu kami,
Jangan ambil energi kami.
Disana, dirumah gubuk, beratapkan katu,
anak dan istri, ibu serta bapak kami dengan sabar menunggu, menunggu kami pulang.

Tuan,
Jika manifesto politik tidak lagi mencerminkan dedikasi pendidikan politik yang baik, benar dan santun, tentu saja sekema, taktik, intrik dan target kemengan tuan dan lawan tuan, justru berubah menjadi momok yang menakutkan.

Tuan,
Kami takut
Takut kehilangan cinta,
Takut kehilagan kasih sayang,
Takut kehilangan kemesraan,
Kami takut dengki,
Takut benci,
Takut dendam.
Kami takut tuan, takut terjadi diantara sesama kami.

Tuan,
Kami tak ingin lebih.
Sementara tuan dan lawan tuan, duduk, tersenyum simpuh diatas singasana yang sama.
Komentar

Berita Terkini