|

Anjloknya Harga Kopra Akibat Hadirnya Kelapa Sawit Di Malut


TERNATE- Comunitas Slavery menduga dampak jatuhnya harga kopra di Provinsi Maluku Utara ada kaitannya dengan PT. Korindo yang masif bergerak di bidang kelapa sawit yang berlokasi di Kecamatan Gane Dalam, Kabupaten Halmahera Selatan.

Dari hasil kajian Comunitas Slavery, rata-rata masyarakat Malut menggantungkan hidupnya dengan kelapa dalam. “Kalau harga kopra terus-terus seperti ini, sudah tentu akan berimbas ke banyak hal, termasuk biaya pendidikan yang tak bisa dibayar,” teriak Koordinator Lapangan (Korlap) Comunitas Slavery, Fajar Ramadan.

Fajar menganggap, masifnya kelapa sawit di Maluku Utara sangat berkaitan dengan anjloknya harga kopra dan ada faktor kesengajaan menjatuhkan harga kopra agar kelapa sawit bisa ditanam di seluruh Maluku Utara.

“Saat sawit sudah tersebar di bagian Halmahera Selatan yang bertempat di Gane Dalam. Dan kelapa sawit itu dimotori oleh PT. Korindo,” ujarnya.

Fajar mengatakan, para pengusaha kelapa sawit bekerja sama dengan WHO atau organisasi kesehatan dunia untuk mengkampanyekan bahwa mengkonsumsi kelapa akan menyebabkan kolesterol yang tinggi.

“Padahal ini merupakan permainan agar orang tidak lagi mengkonsumsi kelapa dalam supaya menggantikan dengan kelapa sawit. Lanjutnya

Menurut mereka kampanye ini sangat tidak masuk akal. Orang tua kita di Maluku Utara ini sudah sejak dahulu mengkonsumsi minyak kelapa dalam sebagai kebutuhan sehari-hari,” tegasnya.

Aksi yang dilakukan dengan berjalan kaki di mulai pukul 11: 00- 04:00 WIT. beberapa titik aksi yakni taman Nukila, depan Jati Land Mall, pasar Higenis dan di pasar Gamalama.

“Masalah harga kopra ini tidak bisa dibiarkan terus seperti sekarang. Karena sama halnya membunuh para pertani kopra di Maluku Utara. Apalagi saudara-saudara kita yang dari Nasrani dalam waktu dekat akan merayakan natal dan tahun baru, sudah tentu akan membutuhkan banyak uang,” ungkap Fajar.

Slavery berharap, pemerintah tidak mengijinkan kelapa sawit untuk masuk di Maluku Utara. Karena, kelapa sawit tidak menguntungkan masyarakat lokal.

Sejarah masyarakat Maluku Utara hanya hidup dengan kelapa dalam, bukan kelapa sawit. Maka untuk harga kopra, biarlah petani yang menentukan harganya sendiri. Jangan lagi ada intervensi dari pengusaha untuk bermain harga.

“Semoga pemerintah kita ada niat baik untuk menyelesaikan masalah kopra dengan serius. Jangan hanya janji-janji saja, karena petani kopra saat ini tidak butuh janji, tetapi mereka butuh bukti,” harapnya.(Ks).
Komentar

Berita Terkini