|

Kopra, Rumah Tangga dan Obsesi Mahasiswa

Foto : Ilustrasi Memanjat Pohon Kelapa

Oleh : Arman Panigfat

Apakah yang benar? Apakah yang salah? Apakah yang membedakan melakukan dengan tidak melakukan? Seandainya waktu bisa diputar kembali, pikir sang raja tua, aku akan mengubur diri dalam biara karena takut akan melakukan hal yang berujung pada kesensaraan.
T.H. White, The Once and Future King

Cahaya matahari jatuh menimpa sekujur badan, pagi. Petani desa sibuk mengangkat sebotol air aqua berisi air masak istri dan taperware (rantang), makanan menandakan mereka akan menuju lokasi pertanian untuk mengecek hasil tani kelapa.

Apabila sudah mendekati matang (tua) panen untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun pada tanggal 14 November 2018 reaksi masyarakat Halmahera Utara (Halut) menuntut ke Pemda Halut untuk menaikkan harga Kelapa (Kopra). Tidak sampai disitu mahasiswa yang notabene berasal dari anak petani ataupun tidak, merasa terlibat untuk ambil bagian menyuarakan aspirasi. Dari dulu soal yang begini adalah tanggung jawab mahasiswa.

Pernah kalian mendengar Joki paling keren yang kerap di ungkapkan oleh mak-mak yaitu Bawang Rica, Tomat (Barito) dapat berpengaruh terhadap keberlangsungan kehidupan Dapur, Kamar dan Kasur?

Sentiment mak-mak meluap setelah harga kopra pada pasar internasional mengalami penurunan sehingga berpengaruh pada pasar industri minyak nasional. Awalnya,  harga Kopra berkisar, Rp. 5000/kg turun hingga Rp. 2000/kg.

Klaim penurunan harga kopra akibat kurangnya minat idustri yang melirik hasil produksi Kopra dan Investor-investor lebih berminat pada produksi Kelapa Sawit sebagai bahan pengganti produksi berbagai bahan kosmetik seperti Bodylotion, sabun dan aneka pembersih lainnya. Kenapa petani menjerit? Bagaimana hubungannya dengan kebutuhan rumah tangga? Berdasarkan data BPS Maluku Utara memiliki di angka 231,619 terhitung tahun 2015 presentasi produksi di sepuluh Kabupaten Kota.

Jalur eksportir perdagangan untuk bagian Indonesia Timur akhir abad ke-19 rata-rata fokus eksportir lebih pada komuditi perkopraan.

Manado muncul perusahaan Jepang yakni Nanyo Buki Kaisha (NBK). Di Ambon terdapat beberapa eksportir Cina seperti Kho Hong Gien, Ong Kie Hong, Tong Tek  dan di Ternate muncul perusahaan orang-orang Arab yaitu, Syekh Ahmad Bahaweres, Syekh Nazar Allamana dan Syekh Mohamad Abdul Gani (Korte Barichten 1910-1911, hal. 253) dalam A. Rasyid Asba.

Komuditi perkopraan mempunyai sejarah panjang pada pasar eropa terutama tanaman Kelapa, jenis tanaman ini yang pada umumnya menghidupi petani terbentang dari tanjung Sopi hingga Lifmatola. Namun selama ini mata rantai distribusi Kopra masi menjadi mitos dikalangan petani. Biasanya petani berhutang kepada pembeli/pengusaha sebelum panen atau produksi, hutang bevariasi seperti biaya kuliah anak, beras dan berupa uang cast.

Bentuk hubungan petani dan pengusaha seperti di atas di sebut-sebut sebagai hubungan jaringan setan, apalagi menjelang Natal, Puasa, Idul Fitri dan Idul Adha.

Terjadi mata rantai distribusi seperti ini sehingga tidak pernah mensejahterakan petani karena sistem yang dibangun adalah sistem ketergantungan ekonomi. Bahkan modus anjloknya harga kopra ada yang memanfaatkan petani untuk mengontrakkan pohon kelapa dan jatuh tempo tidak melunasi maka pohon kelapa menjadi milik pengusaha.

Model distribusi dan produksi seperti ini menunjukan adanya pemimpin pasar (leader of market), ialah yang mengatur harga kopra dan komuditi lainnya (kekuatan monopoli).

Tahun 1963 pengumpulan Dana Revolusi terjadi di  Maluku Utara. Maluku Utara menjadi basis konsulidasi perebutan Irian Barat untuk masuk ke Indonesia dengan menghimpun hasil Kopra, terkenal dengan sentra Dana Kopra Merebut Irian Barat (DAKOMIB).

Apapun kajiannya tidak luput dari hal imajiner bertalian khusus dengan bentuk kepentingan minoritas dan harfiahnya kepentingan umum. Terlepas dari anjloknya harga kopra diharapkan tidak terjadi angka kepentingan politik yang menyebabkan lahirnya monopoli pasar dan terbentuk pemimpin pasar baru, jika kita membaca alur perdagangan distribusi kopra terlihat jelas bagaimana pedagang memainkan mekanisme pasar.

Sekian lama petani kelapa berkutat dengan permainan pasar hingga anjloknya harga kopra. Kini entah argumentasi pemerintah dapat di jadikan jawaban untuk mengatasi permasalahan yang menimpa atau petani harus melakukan inovasi dengan strategi peremajaan pohon kelapa. Kelapa berbasis teknologi seperti Negara tetangga Philipina dan Thailand yang saat ini sebagai pengekspor terbanyak dengan pengolahan hilirisasi kelapa Waullahu alam bissawab.*


Komentar

Berita Terkini