|

Harga Tiket Pesawat Rute Domestik Naik, Pihak Garuda Sebut Bukan Kenaikan


Ternate-Kenaikan harga tiket jasa angkutan udara yang melayani rute penerbangan domestik di Indonesia akhir-akhir ini banyak di bahas dan di beritakan di berbagai media. Persoalan tersebut juga dikeluhkan masyarakat, keluhan tersebut muncul setelah beberapa maskapai penerbangan yang melayani rute domestik memasang tarif tinggi di banding tarif sebelumnya.

Hal tersebut sampai mengundang reaksi salah seorang netizen bernama Iskandar Zulkarnain yang membuat petisi kepada Kementrian Perhubungan untuk segera menurunkan kenaikan harga tersebut pada 20 Desember 2018 (tempo,11/012/2019).

Membenarkan hal tersebut, Agung Gunawan mengatakan benar adanya soal kenaikan yang telah di beritakan atau di ulas di media sebelumnya. Namun menurut Agung, sebenarnya itu bukan kenaikan sebab semuanya masih dalam tarif batas bawah dengan batas atas.

"Memang benar apa yang diberitakan oleh media sebelumnya, namun itu bukan kenaikan" ujar Agung Gunawan Manager PT Garuda Indonesia (persero) saat ditemui wartawan di ruang kerjanya pada (15/01) di kelurahan Stadion.

Menurutnya, tarif yang di rasakan tinggi saat ini karena sebelumnya operator selalu berusaha untuk menarik pelanggan yang lebih banyak, maka salah satu caranya adalah dengan berkompetisi di harga.

"Beberapa waktu lalu, harga yang kita tawarkan ke pelanggan itulah harga yang bukan di level-level tarif batas yang sesungguhnya" ucapnya.

Arif menjelaskan, untuk melakukan promosi tentunya harus ditawarkan harga yang menarik bagi pelanggan, artinya langka tersebut di ambil agar bisa berkompetensi dengan yang lain. Namun untuk saat ini pihaknya telah berupaya mengembalikan harga tersebut ke harga yang sewajarnya sesuai ketentuan tarif batas atas dari pemerintah. Sebab jika telah di sesuaikan maka kompetitor atau pemain lain juga akan mengikuti dan kembali ke ketentuan.

"yang dirasakan adalah itu, jadi dulu koh murah bangat, semua orang bisa menikmati komplit sekarang kok tinggi" jelasnya.

Maskapai Garuda Indonesia sendiri punya skala tarif batas bawah, misalnya jika kita ke Jakarta harganya sekitar Rp 1,5 juta hingga 2 juta, kemudian untuk harga tertingginya bisa mencapai sampai Rp 3,8 juta. Jadi ketika perang harga, mereka tidak mungkin mematok tarif tinggi karena sudah pasti tidak akan mendapakan pelanggan.

"Kita ingin market kita sudah jelas. Artinya orang yang market garuda dan market lokos itu berbeda apa yang diinginkannya. Tidak mungkin kita berupaya mengambil market lokos itu serta merta ikut terbang bisa merasakan Garuda, kan secara produk beda, baik dari full service maupun segala fasilitasnya". Ungkap Arif lagi.

Sementara untuk saat ini kondisi sudah mulai losisen, sebab Natal dan tahun baru sebelumnya di awal sampai pertengahan Januari, namun ternyata minggu pertama Januari sudah mulai tidak banyak profit, sehingga harus disesuaikan.

"Tinggal menyesuaikan, karena antara supply dan demand ini kan tidak mungkin kita punya penerbangan tiap hari terus kita terbang tapi penumpangnya tidak mencukupi. Jadi dari frekuensi kita sesuaikan dari harga juga akan disesuaikan. Kita ingin produk kita di nikmati tapi dengan harga yang sesuai" tutupnya. Imha
Komentar

Berita Terkini