|

Ketua DPP Persakmi Ajak Seluruh Pengurus Agar Bersinergi Meningkatkan Mutu Seluruh Sarjana SKM.


Ternate-Pengurus Cabang Perhimpunan Sarjana dan Profesional Kesehatan Masyarakat Indonesia (PERSAKMI) Se-Provinsi Maluku Utara Periode 2018-2022 diharapkan dapat bekerja sama dengan baik dan maksimal agar bisa meningkatkan mutu para tenaga kesehatan dengan harapan mampu meningkatkan pelayanan kesehatan masyarakat di Provinsi Maluku Utara.

"Selamat untuk pengurus yang baru di lantik hari ini, semoga dapat mengembang isi AD/ART Persakmi, sehingga bersinergi dalam pengembangan kapasitas SDM khususnya kesehatan SKM agar dapat di optimalkan". Ujar Prof Dr. Ridwan Amirudin SKM, M.Kes, M.Sc. PH ketua DPP Perhimpunan Sarjana dan Profesional Kesehatan Masyarakat Indonesia (PERSAKMI) Indonesia dalam sambutanya pada pelantikan DPW dan DPC se-Maluku Utara yang di bal room roya resto pada (13/01).

Menurut Ridwan, menjadi sarjana kesehatan masyarakat harus memiliki delapan kompetensi dasar yang sekaligus menjadi kecirian utama. Kompetensi dasar tersebut antara lain.

SKM itu harus memiliki comunity analitic atau kemampuan menganalisis yang di dalamnya ada indikator mulai dari angka harapan hidup, angka cakupan air bersih, angka capaian jambang keluarga, angka kecukupan gizi, juga pertumbuhan bayi dan balita.

Kompetensi selanjutnya adalah kemampuan pemberdayaan masyarakat. Kompetensi keilmuan dasar atau kemampuan tentang epidemiologi, sebab kor ilmunya SKM adalah kemampuan mendiagnosa masalah komunitasnya. Selanjutnya kompetensi lain yang harus di miliki SKM adalah memiliki keilmuan tentang bio statistik kependudukan, keilmuan nutrisi, keilmuan Kesehatan lingkungan, keilmuan kesehatan kerja, keilmuan adninistrasi kebijakan, dan keilmuan promosi kesehatan.

"Tujuan dari semua ini adalah meningkatkan cakupan layanan, memberikan layanan yang aman, meningkatkan akses bilitas layanan" jelas Ridwan.

Seorang sarjana SKM, tambah Ridwan, memiliki kapasitas menjadi seorang lurah, bekeja menjadi camat, bekerja di kementrian pemberdayaan perempuan, bekerja di BKKBN, bekerja di kementrian dalam negeri (kemendagri). Jadi sarjana kesehatan masyarakat (SKM) tak bisa hanya di batasi bekerja di kementrian kesehatan.

Ridwan juga menyampaikan kepada rekan Sarjana Kesehatan Masyarakat (SKM) yang ingin melanjutkan pendidikan magister, yang ingin mengambil doktoral. Semua akan di atur dan di siapkan dengan pola memungkinkan bisa bekerja sambil bisa melanjutkan pendidikan.

"Kami juga menyiapkan beasiswanya untuk itu" jelasnya.

Mengakhiri sambutanya, Ridwan juga tak lupa mengajak pada profesi lain agar mari bekerjasama untuk menyelesaikan masalah-masalah mengenai kesehatan yang belum terselesaikan sehingga bisa di selesaikan dengan baik. (Imha)
Komentar

Berita Terkini