|

Independensi Mahasiswa Dalam Menyikapi Tahun Politik


Oleh: Sukarman Kasim
(Mahasiswa Muhammadiyah Ternate)

Sesaat lagi kita akan di perhadapkan dengan pesta demokrasi yakni momentum Politik Tahun 2019 untuk memilih presiden dan calon legislatif.

Maka, Indenpendendisi dianggap perlu untuk diletakan tanpa pengaruh sosial secara paksa. Independensi secara cermat dipahami sebagai "berdiri sendiri, yang berjiwa bebas, tidak terikat dan merdeka bebas".

 Dalam tulisan ini, saya akan melihat sisi dan kesungguhan serta independensi mahasiswa dalam menyikapi tahun politik. Bukan berarti harus membatasi diri pada lanskap politik, tetapi bercermin dari demokrasi kita hari ini yang diharuskan mengawal aspirasi rakyat, justru lebih mengutamakan mengawal cukong ataupun tengkulak dan kepentingan privat, miris bukan!!.

Mahasiswa, kaum intelek yang terdidik di ruang ilmiah, oleh karena itu jangan sampai arbitrer untuk bersikap, apalagi harus pamer sikap tanpa kita sadari ada spekulasi subjektif yang di nilai dari pihak lain, akibat dari sikap yang di tonjolkan kentara arbitrer tanpa memikirkan hukum kausalnya.

Pada porsi itulah mestinya jalur independen mahasiswa harus juga dijaga, sebab watak politikus sudah tercermin dari etape ke etape yang hadir bukan sebagai mandataris atau sebagai delegasi rakyat. Tetapi condong kentara mengawal proyek perusahaan dll akibat kepentingan parpol, kelompok, keluarga dan menabung harta kekayaan sendiri.

Berbicara tentang praktek politik maka mengutip apa yang pernah disampaikan oleh Eko Prasetyo, " Politik terancam jadi rutinitas yang menjemukan, gaduh ketika ada insiden tapi hambar saat menunggu jawaban". Tiap politisi menyimpan cela politisi lain, selain sodok hingga tuduh-menuduh hanya untuk menambah efek kejut, seolah memang politik berisi pertarungan dan perseteruan.

Padahal, itu semua omong kosong dan bualan. Politik tak lain adalah paket untuk membuat kekuasaan lebih stabil, lebih menjamin dan lebih memberi Garansi pada rezim, capaian terakhir itu dilakukan dengan memberi keistimewaan pada kubu pro status quo. (Baca; Eko Prasetyo. "Bangkitlah Gerakan Mahasiswa. 2015").

Sesuai dengan pernyataan diatas, maka sebagai insan yang ber-almamater tentu juga kita tidak semestinya terkoptasi dengan paradigmatik Politikus yang nantinya menjadikan mahasiswa sebagai tameng untuk merebut kekuasaan, dan jikalau wakil rakyat yang dianggap memilki skill untuk memikul beban rakyat. Namun kenyataannya tidak, atau tidak berjalan dengan apa yang diharapkan oleh rakyat maka secara tidak langsung kita juga turut melegitimasi untuk menebar sebuah kejahatan.

Diri pundak mahasiswa ada setumpuk harapan. Idealisme patutnya dipertahankan ruang ilmiah dan dirawat. selalu peka terhadap lingkup sosial yang semakin menindas.

Sengaja hal ini ditulis karena cerminan dari politikus kita hari ini yang kerap mendikte paradigmatik otoritarianisme menjadi politik yang bias dan tak bermoral. Oleh karena itu sikap egalitarianisme menjadi pangkal dari sebuah konsep dasar agar dapat menjalani tanggung jawab dengan baik. hal ini tela di istilahkan oleh "Kuntowijoyo" sebagai Humanisme Teosentris.

Maksud dari humanisme teosentris yang diistilahkan oleh sang budayawan dan sejarahwan ini ialah, manusia harus memusatkan dirinya kepada Tuhan, tetapi tujuannya adalah kepentingan manusia sendiri, selanjutnya adalah "Liberasi".

Liberasi yang di maksudkan oleh Kuntowijoyo dalam ilmu sosial profetik adalah berada dalam konteks ilmu dan bukan konteks ideologis; yaitu ilmu yang didasari nilai-nilai luhur transendental. liberatif tersebut harus dipahami atau didudukkan dalam konteks ilmu sosial yang memiliki tanggung jawab profetik untuk membebaskan manusia dari kekejaman kemiskinan, pemerasan kelimpahan, dominasi struktur yang menindas dan hegomoni kesadaran palsu. Dan selanjutnya adalah "Transendental" unsur terpenting dari etika profetik dan sekaligus menjadi dasar dari dua unsur lainya; humanisasi dan liberasi.

Transendensi memberi arah kemana dan untuk tujuan apa humanisasi dan liberasi itu dilakukan. Pada substansinya transendesi berarti mengakui ketergantungan manusia kepada penciptanya. Konsep Kuntowijoyo tersebut merupakan sebuah afirmasi, untuk manusia yang berjalan di bumi Tuhan sebagai manifestasi.*
Komentar

Berita Terkini