|

DPRD Kepsul Lirik Proyek Pembangunan Masjid Senilai 4 Milyar

Kondisi Mesjid Di Desa Pohea
SANANA- Proyek pembangun masjid di Desa Pohea, Kecamatan Sanana Utara, Kabupaten Kepulauan Sula (Kepsul) mendapat sorotan serius dari Komisi III DPRD Kepsul. Komisi III menilai, pembangunan masjid yang dikerjakan selama empat tahun ini seharusnya sudah selesai, tetapi kenyataan di lapangan malah meresahkan warga setempat dan terdapat banyak masalah.

Pembangunan masjid Desa Pohea ini, seperti diketahui, sudah menghabiskan anggaran kurang lebih Rp 4 miliar sejak Tahun 2015. Hasil dari Rp 4 miliar justru tidak sebanding dengan yang harapankan dimana, atap mengalami kebocoran saat musim hujan dan lantai dua tidak kokoh alias sering goyah.

Padahal, pada lebaran Idul fitri kemarin, lantai dua sudah bisa dipakai oleh jama'ah. Hanya saja kondisi bangunan tidak memadai, sehingga masyarakat tidak mau mengambil resiko.

Rincian anggaran pembangunanasjid sendiri yaitu, pada Tahun 2015 sebesar 500 juta, Tahun 2016 sebesar 500 juta dan, Tahun 2017 sebesar 1 Milyar lebih serta pada tahun 2018 dianggarlan sebesar 2 Milyar.

Terbaru, pada tahun 2019 ini sudah dianggarakan sebesar Rp 300 juta dan belum ada proses pelelangan oleh Pemda. Selama 4 Tahun ini pula, rekanan yang mengerjakan proyek pembangunan masjid juga diketahui berbeda-beda.

Anggota Komisi III DPRD Kepsul, Burhanudin Buamona mengatakan, masih terdapat banyak kekurangan dari pembangunan masjid di Desa Pohea yang harus diselesaikan jika dilihat dari kondisinya fisiknya saat ini.

“Hari ini (kemarin, red) saya sendiri turun ke lokasi dan melihat langsung kondisi masjid. Hasilnya, sangat banyak kekurangan. Yang pertama atapnya masih bocor. Kedua, lantai dua itu juga tidak kuat dan jika menampung sekitar 100 orang maka bisa dipastikan akan runtuh,” katanya saat ditemui di masjid Pohea, Senin (17/6).

Burhan menilai, lantai dua masjid Pohea perlu ditambah satu balok tengah untuk dijadikan penahan. Karena, jika tidak ada balok tengah, sudah pasti tidak mampu menahan beban yang berat “Saat kami berada di lantai dua, ada perasaan takut. Jadi perlu ada tambahan balok di bagian tengahnya,” pintanya.

Jadi, lanjutnya, Dinas Pekerjaan Umum (PU) dalam hal ini di Bidang Perumahan dan Pemukiman (Perkim) harus bertanggung jawab atas pekerjaan ini. Karena, memang pekerjaan masih terdapat banyak kekurangan terhadap pembangunan. “Kami minta PU bertanggung jawab atas proyek pembangunan ini hingga selesai,” harap Burhanudin.

Masjid Pohea ini, Burhanudin menambahkan, seharusnya menjadi perhatian penuh bagi Pemerintah Daerah. Sebab, ini satu-satunya masjid yang menjadi ikon ketika ada tamu dari luar yang datang berkunjung di lingkup Kantor Bupati.

“Kan tidak mungkin tamu pejabat Negara dari luar daerah yang berkunjung ke Kantor Bupati lalu kemudian melakukan sholat di masjid diluar dari Desa Pohea. Sudah pasti akan sholat di Masjid di Pohea. Maka dari itu harus ada perhatian kusus dari pemerintah,” tandasnya.(KS)
Komentar

Berita Terkini