|

PUISI | KU PINJAM AYAHMU


Oleh : Ikram Salim
_____________________

Adzan di corong surau ramai,
Di ufuk, mentari menguning antara karavan.

Hari itu telah berpulang, kau terbaring menunggu lantunan Adzan sejak sepekan lalu.

Wajahmu berseri, candamu masih terucap. Kau menunggu dengan tenang tanpa gelisah. Sedangkan perempuan hebat itu perlahan lemah.

Ia terus menatap wajah pria yang meminangnya puluhan tahun silam.
Lelaki itu tak mau perempuannya risau. Sampai akhirnya Adzan di surau hilang, menjauh dari corong. Lelaki itu menutup matanya.

Tugasmu telah selesai, dia pamit ingin tidur, tidur panjang nan indah.
Suara getar beberapa detik di balik gawai. Orang asing itu gugup mendengar itu. Batinnya teiris, perih.

"Ayah telah pergi, "ucapnya mengakhiri.

Ayah, masih ada cerita yang mungkin lupa kau kisahkan saat kita bersua.
Atau, mungkin saja terlewatkan, saat gadis cilik itu mengganggu.

Setiap kali perempuanku bercerita tentangmu, aku ingin ia mengulang berkali-kali. Aku masih menghafal setiap kerut wajahmu sebagai penawar rinduku.

Dari dirimu, aku telah hayatkan sikapmu, sabarmu, hebatmu dan imanmu.

"Ijinkan, aku meminjam ayahmu, aku ingin menyimpannya disini untuk cucunya nanti".

Sanana, 18 Juli 2019
Komentar

Berita Terkini