|



Seorang Perempuan Berdarah Tionghoa Ikut sebagai Peserta Selama Ivent GHS 2026

Doc: Reportmalut.com

Sanana, Reportmalut.com - Kegiatan Ritual Budaya Gabalil Hai Sua (GHS) Tahun ini menghadirkan hal baru. Salah satu peserta Gabalil Hai Sua berdarah Cina yang telah lama tinggal di tanah Sula juga turut berpartisipasi dalam kegiatan Gabalil Hai Sua 2026.

Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, GHS yang biasanya hanya di ikuti oleh orang Sula karena merupakan tradisi orang Sula yang telah lama dilakukan, kini di ikuti juga oleh seorang perempuan berdarah Cina yang juga lahir dan besar di Sula pung turut serta dalam kegiatan GHS 2026. 

Kehadirannya dalam tim Wakdab 77 adalah penegasan bahwa Gabalil Hai Sua tidak menjadi milik orang Sula semata melainkan orang yang telah lahir dan besar di Sula juga mempunyai rasa kepemilikan atas tradisi tersebut, kehadirannya juga mampu memberikan warna baru dalam ritual GHS tahun ini.

Tan Eng Sen dalam keterangannya menyebutkan, Kebiasaan orang Sula sejak dulu ketika selesai ujian Sekolah mereka langsung niatkan untuk melakukan perjalanan Mengelilingi (Gabalil) Tanah Sula.

"Kebetulan waktu itu bertepatan dengan papa meninggal jadi Beta sandiri saja yang belum bisa ikut Gabalil, Beta pung Ade dong juga waktu selesai ujian dong so langsung pigi".Jelasnya.

Ia mengatakan, tapi mereka jalan dulu dan sekarang sudah berbeda, dulu badan jalan juga masih kecil. Pas dengan momentum ini saya tuntaskan niat saja yang sudah lama belum di tunaikan.

Beta pung Ade dong dulu dong jalan Gabalil itu jalannya masih kecil, tong jalan juga hanya satu badan jalan. Pas dengan momen ini maka Beta tunaikan Beta pung niat dulu yang belum dilakukan."Imbuhnya.

Baginya, keikutsertaan dalam ritual tersebut bukan sekadar mengikuti kegiatan budaya, melainkan juga bentuk penebusan janji pribadi yang telah lama tertunda.

“Ini karena niat. Niat dari tahun 1984 yang belum terlaksana, sekarang saya tebus. Saya ingin merasakan bagaimana hidup sebagai orang Sula,” katanya.

Selama menjalani perjalanan, ia mengaku merasakan pengalaman yang menyenangkan tanpa hambatan berarti.

“Rasanya enak, nyaman, santai, dan sangat menikmati setiap prosesnya,” Ungkapnya.

Ia menilai, tradisi mengelilingi Pulau Sula merupakan bagian penting dari identitas budaya yang perlu dijaga oleh masyarakat di Kepulauan Sula.

“Kalau orang lain bisa keliling Sula, apalagi saya orang Sula. Ini bagian dari budaya yang harus kita jaga,” ujarnya.

Kini, setelah berhasil menuntaskan niat tersebut, ia merasakan ketenangan batin yang mendalam.

“Saya merasa tenang karena akhirnya bisa menebus niat itu,” ucapnya.

Ia berharap, ritual Gabalil Hai Sua dapat terus dilaksanakan secara rutin agar tetap lestari dan diwariskan kepada generasi mendatang.

“Kalau bisa diadakan setiap tahun supaya tidak punah dan terus berlanjut,”harapnya menutupi. (IB)

Komentar

Berita Terkini