-->
    |



Atap Pasar Basanohi Bocor, Pedagang Protes Pemda


Sanana-Pedagang pasar Basanohi, Desa Fogi, Kecamatan Sanana, Kabupaten Kepulauan Sula (Kepsul) kembali melakukan protes terhadap Pemerintah Kabupaten (Pemkab). Protes dilayangkang karena Atap Bangunan bocor di semjulah titik dan membuat mereka mendirikan tenda didalam pasar.

Pedagang yang menempati bangunan pasar yang berhadapan dengan terminal ini menilai, Bupati Hendrata Thes hanya memberikan janji yang hasilnya tidak pernah ditepati. Apalagi kebocoran bangunan pasar yang mereka tempati tidak pernah menadapat perhatian dari Pemda


Dari kebocoran itu, pedagang kemudian mencari jalan alternatif dengan membeli “terpal” untuk menutupi jualan mereka. Hal ini lantaran setiap kali terjadi hujan, jualan mereka selalu basah  sehingga jualan mereka rusak atau busuk dan tidak lagi dibeli oleh pembeli.   

Selain atap, terdapat masalah lain yang dikeluhkan pedagang yakni tempat saluran pembuangan air kotor yang tersumbat di semua sisi. Akhirnya, pedagang maupun konsumen terganggu dengan bau busuk yang ditimbulkan.

Dari beberapa janji Bupati Hendrata Thes yang sampai saat ini tidak terpenuhi, sejumlah pedagang kemudian meluapkan amarahnya dengan memberhentikan proyek pembangunan yang sementara dilakukan di area pasar tersebut.

Pedagang meminta kepada Pemkab Kepsul agar menyelesaikan beberapa masalah yang menjadi kebutuhan dasar dan jika kebutuhan mereka sudah terpenuhi maka segala aktifitas pekerjaan yang dilakukan oleh Pemkab itu tidak lagi dihalang-halangi.   

“Kami marah kepada pemerintah, karena terkesan tidak mengurus pedagang yang ada di pasar ini. Jadi kami berhentikan pekerjaan yang saat ini dilakukan oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kepsul,” kata Foni, salah saat pedagang saat ditemui awak media, Senin (3/8) kemarin. 

Foni mengatakan, selama ini mereka terus membayar pajak kepada Pemkab Kepsul. Tetapi, setelah tempat mata pencaharian mereka mengalami kerusakan, Pemkab tidak mengurusnya. “Iya, setiap bulan kita bayar pajak, satu petak Rp 90 ribu. Namun bangunan tidak sesuai dengan pajak yang mereka berikan,” kesalnya.

Bukan hanya itu, pedagang yang berjualan sejak 2011 itu mengeluhkan saluran pembuangan dikerjakan. Sebab, air tidak bisa keluar ke saluran yang disediakan. Akhirnya muncul bau busuk. “Hampir semua atap bocor. Akhirnya para pedagang kemudian menggunakan tarapal untuk menutup jualan mereka. Juga bau busuk,” keluhnya.

Pedagang yang ada di bangunan pasar tersebut sebanyak 100 orang lebih. Selain yang ada di dalam petak, ada juga yang berjualan di tempat terbuka yang disediakan oleh pemerintah. Pedagang yang ada di tempat terbuka setiap hari membayar retribusi Rp 2 ribu.

“Bukan keuntungan yang mereka dapat, tetapi kerugian. Sebab bangunan yang Pemkab sediakan tidak menarik perhatian pembeli. Atap yang bocor itu kemudian merusak semua jualan kita,” Foni menambahkan.

Sementara Rosmi, salah satu pedagang pasar Basanohi mengatakan, Pemkab Kepsul sembarangan menata bangunan pasar yang di sini. Ada beberapa bangunan yang disediakan tapi tidak ditempati. Misalnya seperti pasar tingkat dan pasar ikan. Mereka juga tidak ingin melawan kebijakan pemerintah, hanya saja beberapa janji dari Bupati Hendrata Thes yang tidak dipenuhi, mau tidak mau mereka lakukan protes.

“Jadi kami usir orang dari Dinas PUPR Kepsul yang mau membangun taman di dekat suering. Kami bingung dengan pembangunan yang ada di sini. Misalnya ada bangunan yang dibongkar, pemerintah menyampaikan mau lakukan jalan, ketika sudah dibongkar, tiba-tiba bukan jalan yang mau dibangun, tapi yang lainnya lagi,” katanya.

Jadi, Rosmi minta kepada pemerintah agar segera memperbaiki atap yang bocor dan saluran pembuangan. Selain itu, pemerintah juga menertibkan seluruh pedagang yang ada di Sanana, supaya semuanya berjualan di satu tempat. Jangan yang lain jual di pasar, yang jual di torotoar sepanjang pertokoan Desa Fagudu. 

“Pemkab harus selesaikan masalah yang lebih mendesak. Jangan dulu bangun yang baru, tapi urus dulu semua masalah yang saat dihadapi oleh pedagang,” pintanya.

Jika permintaan mereka tidak diindahkan oleh Pemkab Kepsul, lanjutnya, maka mereka berkomitmen untuk terus melawan kebijakan dari pemerintah hingga permintaan mereka terpenuhi.

"Bupati Hendrata punya janji sudah terlalu banyak, tapi tidak pernah terpenuhi, buktinya atap yang bocor dan saluran pembuangan saja tidak bisa diselesaikan,” semprot Rosmi.(KS).
Komentar

Berita Terkini