|

Ironi Negeri Pangan: Ketika Petani Merana, Harga Terus Melambung

Oleh : Hairil 

(Pemuda Kelurahan Bobo, Tikep)

Wah,,,,sungguh ironis melihat bagaimana lingkaran ekonomi pangan di negeri ini seolah terjebak dalam sebuah teka-teki tak berujung, di mana setiap pihak merasa dirugikan. Mari kita kupas satu per satu agar kita bisa melihat betapa peliknya benang kusut ini.

Meskipun, awal tahun 2023 kemarin pemerintah melakukan langkah brilian dengan pemulihan ekonomi, dan masyarakat secara luas, semua menjadi normal terutama petani yang menjual panen mereka dengan harga seimbang. Tetapi harga beras saat itu masih tetap menjadi primadona, naik tajam.

Laporan Goodstats, dari Rp 10.448 pada 2022, harga beras naik ke Rp 12.102,7 pada 2023, dan terus meningkat menjadi Rp 13.471 pada 2024. Puncaknya adalah pada Mei 2025 dengan besaran Rp 13.735. Kenaikan ini menyebabkan petani dan konsumen sama-sama sama menjerit dalam arus deras harga sembako.

Sang Petani - Pahlawan yang Tercekik Realita

Bayangkan, para petani kita, punggung mereka terbakar matahari, tangan mereka kapalan karena mengolah tanah, layaknya Sisyphus dalam mitologi yunani, yang tak henti mendorong batu ke puncak bukit, hanya untuk melihatnya kembali jatuh, lalu mendorong lagi ke puncak.

Mereka berjuang mati-matian, menanam padi, cabai, tomat, terong dan syuran seolah menanam harapan, tetapi seringkali yang tumbuh hanyalah kekecewaan. Biaya produksi melambung tinggi, pupuk mahal bak emas permata, bibit harganya seolah dicetak dari uang pecahan seratus ribu. 

Paling vital, ketika panen tiba, hasil jerih payah mereka yang seharusnya menjadi mahkota kerja keras justru dihargai murah meriah. Seringkali di bawah biaya produksi. Ini bukan lagi pertanian, ini adalah arena perjudian di mana peluang selalu berpihak pada bandar, katakan saja seperti itu.

Padahal, para petani adalah tulang punggung negeri, namun seringkali terhimpit oleh beban yang tak tertahankan, seolah-olah mereka adalah pahlawan yang dikutuk untuk selamanya menelan pil pahit.

Sang Tengkulak/Pedagang Perantara

Kemudian, ada para tengkulak atau pedagang perantara. Mereka ini ibarat jembatan yang menghubungkan petani dengan pasar dan pasar dengan konsumen. Namun, dalam banyak kasus, jembatan ini malah menjelma menjadi tembok sangat besar, di mana mereka mengendalikan arus dan harga. Tanpa alasan, pemgendalian harga terjadi karena acuannya pada harga jual grosir. 

Tiba-tiba pasar menjadi sepi karena daya beli menurun, keluhan pasti selalu datang belakangan. Pembeli semakin irit, katanya. Tentu saja, keuntungan harus tetap didapat, setiap hari, setiap saat. Mereka adalah mata rantai yang vital, namun terkadang, mata rantai ini terlalu banyak mata dan terlalu sedikit hati.

Mereka bisa membeli murah dari petani, dan menjual dengan harga yang lebih tinggi kepada pengepul atau langsung ke konsumen di pasaran. Selisih harga ini, seringkali, menjadi momok bagi petani dan konsumen. Mereka seolah menjadi "penjaga gerbang" yang memegang kunci, memutuskan siapa yang boleh lewat dan berapa harga tiketnya.

Konsumen - Korban Akhir dari Lingkaran Setan

Akhirnya, kita, karyawan lepas, freelance bukan PNS atau Pegawai Negeri yang seringkali menjadi korban terakhir dari drama ekonomi ini. Beras naik, cabai melambung, harga kebutuhan pokok lainnya meroket seolah ingin menembus atmosfer. Sementara itu, gaji tidak seberapa? Tetap di situ-situ saja, seperti patung di taman kota yang tak pernah bergerak. 

Kita merasa tercekik, daya beli menurun drastis, seolah-olah kita berlari di treadmill yang kecepatannya terus meningkat, namun kita tak pernah bergerak maju. Inflasi adalah hantu yang menakutkan, menggerogoti setiap rupiah yang kita dapatkan, mengacak-acak dapur kita ketika harga di pasar sudah menunjukkan wujud mau traveling ke bulan, pakai roket. Ini bukan lagi sekadar takut belanja, ini adalah pertarungan hidup mati dengan daftar harga yang tak masuk akal.

Suara Ekonom Kadang Terabaikan

Perihal keluhan petani dan konsumen yang diuraikan di atas. Sri Mulyani Indrawati, selalu menekankan pentingnya menjaga stabilitas harga pangan, terutama untuk kelompok masyarakat berpenghasilan rendah. Mereka kerap menyoroti inefisiensi dalam rantai pasok dan perlunya intervensi pemerintah untuk memangkas jalur distribusi yang terlalu panjang. 

Ketegasan ini bukan tidak penting, Sri Mulyani melihat pentingnya fleksibilitas anggaran negara untuk menghadapi gejolak harga pangan yang dipicu oleh konflik global dan cuaca ekstrem. Pemerintah menurut Sri Mulyani, secara agresif menyalurkan belanja negara untuk menjaga stabilitas harga dan melindungi masyarakat dari tekanan inflasi. (Lihat : Republika.co.id - Jaga Stabilitas Harga, Sri Mulyani : Anggaran Pangan Harus Responsif)

Disisi lain, soal distribusi pangan dan peran oligopili dalam pandanhan Ekonom Faisal Basri menekankan perlunya penguatan kelembagaan petani dan koperasi. Tujuannya, meningkatkan posisi tawar mereka. Oligopoli dalam distribusi pangan telah disoroti Ekonom yang satu ini,  peran Oligopoli yang kerap merugikan petani dan konsumen. 

Saya pikir, keberpihakan Ekonom Faisal  Basri terhadap lingkungan punya alasan dan analisa yang akurat, tentang kemajuan ekonomi yang tak bisa meninggalkan sumber daya alam dan manusia.

Sementara itu, Chatib Basri bicara tentang pentingnya investasi dalam infrastruktur logistik dan teknologi pertanian untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi. Hal ini, tidak terlepas dari keinginan kesejahteraan petani dan saya beli yang seimbang.

Dalam kumpulan Studi - Aspirasi, Ekonom senior sekaligus mantan Menteri Keuangan, Chatib Basri, mengungkapkan target pertumbuhan ekonomi 8% memerlukan pendekatan realistis dan kebijakan strategis, terutama dalam hal produktivitas dan investasi. 

Menurutnya, sekadar meningkatkan investasi tidak cukup. Tapi juga harus meningkatkan produktivitas yang artinya harus meningkatkan kualitas SDM, infrastruktur, serta tata kelola pemerintahan yang baik.

Dari pandangan Para Ekonom di atas, dapat kita tarik benang merahnya bahwa Para Ekonom telah sepakat tentang solusi untuk menghadapi persoalan fluktuasi harga, dan kesejahteraan petani terletak pada perbaikan ekosistem pangan secara menyeluruh, bukan hanya parsial.

Kita simak data terbaru laporan permintaan pasar Indonesia tentang sembako. Menurut berbagai laporan permintaan pasar terkini di Indonesia, terutama dari Kementerian Perdagangan dan Badan Pusat Statistik (BPS), permintaan sembako, khususnya beras, minyak goreng, gula, dan cabai, cenderung stabil namun dengan fluktuasi harga yang signifikan. 

Salah satu komoditas yang paling mencolok adalah beras yang merupakan bahan pokok utama masyarakat Indonesia, data menurut Laporan Good Stats. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tren harga beras di tingkat perdagangan besar (grosir) menunjukkan kenaikan yang signifikan dalam lima tahun terakhir, terutama setelah masa pandem Covid-19.

Rata-rata harga beras grosir pada Mei 2025 tercatat mencapai Rp13.735 per kilogram. Angka ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya (Mei 2024) yang berada di Rp13.471, dan jauh melampaui harga pada Mei 2023 sebesar Rp12.102,7. Dengan kata lain, dalam dua tahun terakhir, harga beras naik lebih dar Rp1.600 per kilogram, yang menandai laju inflasi pangan yang tidak bisa diabaikan. (Lihat : Goodstats)

Tingkat pedagangan besar (grosir) juga tampak jelas lonjakan harga, yang artinya, lanjakan harga tidak hanya terjadi di pasar eceran. Hal ini yang menjadi indikator awal pergerakan harga di pasar secara menyeluruh.

Badan Pusat Statistik mengumumkan bahwa harga beras meningkat di tingkat penggilingan, grosir, hingga eceran pada Juni 2025. Rata-rata harga beras di penggilingan pada Juni 2025 Rp12.994 per kg atau naik 2,05% secara month-to-month/mom, dan naik sebesar 3,62% secara year-on-year/yoy. (Lihat : CNBC Indonesia -Harga Beras Naik Meski Stok Melimpah, BPS Tunjuk Biang Keroknya).

Laporan BPS di atas menunjukkan bahwa inflasi pangan menjadi salah satu penyumbang terbesar inflasi umum, terutama dipengaruhi oleh kenaikan harga komoditas strategis seperti beras dan cabai. Permintaan akan tetap tinggi seiring pertumbuhan populasi, namun masalahnya terletak pada pasokan dan distribusi yang tidak efisien, menyebabkan volatilitas harga. 

Pada Data terbaru hingga pertengahan 2025 menunjukkan adanya tren peningkatan harga beras di beberapa wilayah, dipicu oleh faktor cuaca ekstrem dan rantai pasok yang panjang. Permintaan minyak goreng juga tetap tinggi, namun pasokannya relatif stabil setelah adanya kebijakan pemerintah.

Jadi, apa yang salah? Yang salah adalah sistem yang tidak berpihak pada keseimbangan. Yang keliru adalah kita membiarkan para pahlawan pangan kita tercekik, para perantara terlalu berkuasa, dan para konsumen semakin terjerat dalam belitan harga. 

Hemat saya, dampak langsung dari kenaikan harga ini adalah daya beli masyarakat secara luas, terutama kelas menengah kebawah. Ini adalah lingkaran setan yang harus diputus, bukan dengan sihir, melainkan dengan kebijakan yang bijak dan keberanian untuk mengubah paradigma. Jika tidak, keluhan ini akan terus bergema, dari sawah hingga meja makan, tanpa akhir.

 


Komentar

Berita Terkini