|

Wapres Gibran Terima Laporan Menteri Wihaji Soal Tren Penurunan Stunting Nasional

Penyampaian laporan capaian nasional prevalensi stunting dari Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Dr. Wihaji, S.Ag, M.Pd

Jakarta, Reportmalut.com - Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka, selaku Ketua Pengarah Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS), menerima laporan capaian nasional prevalensi stunting dari Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Dr. Wihaji, S.Ag, M.Pd. Laporan disampaikan dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Percepatan Penurunan Stunting Tahun 2025 yang digelar di Aula J. Leimena, Gedung Adhyatma Lantai 2, Kementerian Kesehatan RI, Rabu (12/11/2025).

Rakornas yang mengusung tema “Mengukuhkan Komitmen Bersama untuk Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting di Indonesia” ini diselenggarakan oleh Sekretariat Wakil Presiden RI selaku koordinator TPPS Nasional, dengan dukungan teknis dari Kemendukbangga/BKKBN

Kegiatan tersebut menjadi momentum konsolidasi nasional untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam mempercepat penurunan prevalensi stunting.

Wakil Presiden, Bersama Menteri Kemenukbangga/BKKBN dan jajaran.

Acara dihadiri lebih dari 300 peserta luring dan 2.450 peserta daring dari berbagai unsur, mulai dari kementerian/lembaga, pemerintah daerah, mitra pembangunan, dunia usaha, perguruan tinggi, organisasi masyarakat, hingga kader posyandu.

Dalam laporannya, Menteri Wihaji menegaskan bahwa percepatan penurunan stunting adalah program prioritas nasional yang membutuhkan sinergi kuat antar pemangku kepentingan. Ia menekankan bahwa keberhasilan program sangat bergantung pada kerja bersama antara pemerintah pusat dan daerah.

Rakornas ini juga menjadi tindak lanjut Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting, sekaligus bagian dari persiapan pelaksanaan RPJMN 2025–2029 dan RPJPN 2025–2045. Selain itu, forum ini menjadi ruang refleksi atas capaian periode 2018–2024 serta memperkuat koordinasi lintas sektor.

Arahan Bapak Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka.

Dalam arahannya, Wapres Gibran menekankan pentingnya kerja kolaboratif dalam percepatan penurunan stunting. Ia mengapresiasi capaian nasional yang menunjukkan penurunan prevalensi stunting di bawah 20 persen, lebih baik dari proyeksi awal Bappenas.

Penurunan tersebut juga diikuti perbaikan indikator balita overweight dan anemia pada ibu hamil. Namun, Wapres mengingatkan bahwa tantangan masih besar untuk mencapai target 14 persen pada tahun 2029.

Gibran turut menyoroti capaian daerah dengan penurunan signifikan, seperti Provinsi Jawa Barat yang mencatat penurunan 5,8 persen, serta Kabupaten Klungkung, Bali, yang berhasil menurunkan angka stunting dari 19 persen pada 2021 menjadi 5,1 persen pada 2024. Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan pentingnya kepemimpinan daerah, kerja lintas sektor, dan partisipasi masyarakat.

Wapres juga menekankan peran penting kader posyandu dan ibu-ibu PKK sebagai garda terdepan penanganan stunting. Ia menyebutkan bahwa terdapat 1,5 juta kader posyandu di seluruh Indonesia yang perlu mendapat dukungan, pelatihan, dan insentif memadai. Saat ini, peningkatan dukungan bagi kader tengah dikaji bersama Kementerian Keuangan.

Pada kesempatan yang sama, Kemendukbangga/BKKBN memberikan Penghargaan Program GENTING (Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting) kepada pemerintah daerah dan mitra pentahelix yang dinilai berprestasi.

Penerima penghargaan kategori TPPS Provinsi dan Kabupaten/Kota meliputi Provinsi Jawa Timur, Provinsi Maluku, Provinsi Sulawesi Selatan, Kabupaten Banyumas, Kabupaten Lombok Timur, dan Kabupaten Boven Digoel. 

Sementara pada kategori Mitra Pentahelix, penghargaan diberikan kepada PT Pertamina, Bank Papua, PBNU melalui GKMNU, Universitas Airlangga, dan Tribun News.

Program GENTING dinilai sukses menjadi model kolaborasi lintas sektor dalam memperkuat intervensi gizi dan non-gizi bagi keluarga berisiko stunting.

Hingga Oktober 2025, program ini telah menjangkau lebih dari 1,5 juta keluarga penerima manfaat, melampaui target nasional satu juta keluarga.

Kemendukbangga/BKKBN juga tengah mengembangkan berbagai program quick wins untuk memperkuat ketahanan keluarga, di antaranya GATI (Gerakan Ayah Teladan Indonesia), TAMASYA (Taman Asuh Sayang Anak), dan SIDAYA (Lansia Berdaya). Semua program itu menekankan pentingnya peran keluarga sebagai fondasi utama pembangunan manusia.

Berdasarkan data Kemendukbangga/BKKBN, terdapat 8,6 juta keluarga berisiko stunting dari total 43 juta keluarga sasaran di Indonesia. Upaya percepatan terus didukung 602 ribu kader Tim Pendamping Keluarga (TPK) dan 17.799 penyuluh lapangan KB yang memastikan intervensi berjalan tepat sasaran dan berkelanjutan.

Menutup laporannya, Menteri Wihaji menegaskan pentingnya disiplin dan presisi dalam pelaksanaan program lintas sektor. Ia menekankan bahwa kerja penurunan stunting harus terukur, terarah, dan dilakukan dengan pembiayaan yang jelas.

 “Keluarga adalah fondasi utama pembangunan manusia. Dari keluargalah lahir generasi sehat, tangguh, dan berdaya saing menuju Indonesia Emas 2045,” ujarnya.

Komentar

Berita Terkini