|

Pulau Pohon Kelapa


Oleh : Agung Putra Usdek
Mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP UMMU Ternate & Pegiat Pilas Institute

Desa Guruapin adalah salah satu desa tertua di kecamatan Kayoa Kabupaten Halmahera Selatan tempat. Tempat dimana aku melayani dan mengabdikan diri  selama dua bulan dalam bentuk kuliah kerja sosial (KKS) untuk belajar dengan masyarakat.

Belajar mengontrol dan bersosialisasi tentang kondisi sosial budaya,ekonomi hingga pada aspek politik dan pemerintahan. Pengalaman pertama yang sulit di jelaskan dengan kata-kata.

Perantauan atau perasingan menjadi satu dalam artian yang menyatu; kehidupan baru. Belaian angin malam yang tak ku kenal, sentuhan sang surya  terasa  berbeda dan bunyi hempasan ombak juga bunyi suara bintang malam yang tampak asing di telinga menjadi latar atas kehidupan baru-ku.

Sepenggal kisah di jalur khatulistiwa,  tentang keluarga baru yang begitu hangat. Bagai terik sang surya menghangatkan  kekerabatan kehidupan bermasyarakat  oleh kentalnya adat istiadat. Serupa kopi yang selalu tersaji di setiap larut malam saat duduk di teras rumah sembari berbagi kisah dan kasih yang penuh canda tawa.

Keindahnnya serupa Pulau Hawai, Osenia negara bagian di AS. Pantai dengan pesona pasir putih yang terhampar luas sepanjang pesisir laut. Ribuan soki-soki  yang menjadi hiasan pemanis pandangan. Juga pohon-pohon kelapa sebagai icon dari struktur Pulau Kayoa.

Itulah mengapa kusebut Kayoa sebagai pulau Buah Kelapa. Hampir seluruh masyarakat kayoa dan terkhususnya di desa Guruapin bermata pencarian sebagai petani. Biasanya warga disini ketika hendak memanen buah kelapa sering kali di kerjakan dengan cara BARI. Karena budaya gotong royong adalah pola kehidupan bermasyarakat, Komoditas  yang satu ini memang menjadi primadona di setiap pulau Halmahera.

Buah kelapa seumpama emas, seorang penambang harus mempertaruhkan nyawa turun dan masuk ke lubang-lubang untuk menambang emas dengan resiko sesekali bencana datang mengubur mereka. Begitu juga dengan para petani kopra, yang rela dengan tanpa alas kaki berjalan  berkilo-kilo meter di atas jalur khatulistiwa.

Hingga telapak penuh luka akibat memanjat pohon kelapa. Bahu yang tegak namun legam terbakar matahari, dan kulit penuh abu pengasapan kopra. Terkadang mereka di pandang menyeramkan oleh sebagian kecil orang awam. Namun bagi anak para petani, mereka adalah para pahlawan yang gagah dan pemberani seperti dalam film super hero pembawa kedamaian dan kesejahteraan hidup.

Kini damai itu terkoyah angkara. kopra sering mangalami guncangan harga, sangat jauh dari harapan masyarakat. Padahal dulu, dalam sejarahnya kopra menjadi sumber utama yang menopang kondisi kestabilan perekonomian di Indonesia di masa Ir. Soekarno, tapi sebentar saja, setelah itu terbaring lagi.

Sebentar saja, kayoa kehilangan ciri khasnya sebagai pulau kelapa. Sebagian Masyarakat tersesat oleh arah mata pencariannya. Namun ada sebagaian dari meraka yang memanfaatkan sumber daya alam di Pulau Halmahera ini dengan beralih profess sebagai ke nelayan. Hanya saja terkadang Desember membuat cerita lain pada samudra menjadi tak layak untuk mereka yang memancing.

Kini di desa Guruapin, buah kelapa hanya akan dipetik lalu menjadi kuah santan untuk di konsumsi sehari-hari. Uniknya, buah kelapa tak pernah kurang eksitensinya. Terutama di kalangan anak-anak yang selalu menjadi aktor utama atas uniknya desa pedalaman dengan aneka  ragamanan permaianan tradisionalnya.Tidak memerlukan biaya mahal, Hanya dengan Batok kelapa, kegembiraan dan secercah kebahagiaan mudah di raih dalam permaian boy tampurung kelapa.

Di suatu siang yang terik, kami kelompok KKS desa Guruapin II sangat bersemangat dalam menjalani suatu program dari Universitas untuk melakukan pendataan soal kondisi social budaya yang ada di desa ini.

Lagi, siang buram di mataku. Sesekali aku berhenti sejenak di tengah jalan sebab belum terbiasa, tidak terkecuali bagi teman-temanku  Safrin, Frengky, Arson, Ardila, Marlan, Fauhan, Abram, Darwin, Devi, Nurdayani, dan Sahrul  yang  berjalan beriringan tampak terburu-buru menyelesaikan pendataan di setiap rumah warga.

Sementara aku yang terburu-buru menghindari matahari yang terik. Seorang anak kecil kulihat serius memikul sekarung  yang tampak samar oleh pandanganku tentang apa isi dari karung itu. Penuh rasa penasaran, dengan akrab aku coba menyapa dan menanyakan anak kecil itu, ternyata sekarung itu berisi pelepah dari buah kelapa yang kering. Tentu saja ku tahu pelepah ini di gunakan sebagai bahan bahar pengganti minyak tanah.

Anak seumurannya harus berkelahi dengan waktu berjibaku dengan teriknya matahari. Bukankah ia harus bermain bersama dengan teman-teman seumurannya yang lain ?. Disisi yang berbeda aku begitu kagum dengan anak kecil ini. Setidaknya dia tau bagamana membantu meringankan beban orang taunya. Tapi sebenarnya kondisi social di desa ini memang seperti itu.

Disinilah tempat kelahiran anak-anak terasing, generasi terbuang yang jarang diperhatikan oleh penguasa di negeri seberang.  Ada sebagian dari mereka yang setelah menempuh gelar S1 hanya bisa kembali ke kampung  halaman untuk membantu orang tuanya senagai petani kopra.

Kaki kami masih seirama dalam menempuh jarak antara kompleks satu ke kompleks yang lain. Semanagat kami masih senada dalam menyelesaikan program pendaatan kami. Hingga di penghujung sore kami tepat berada di suatu tempat yang letaknya sedikit tinggi dari pemukiman warga.

Dari atas sini, nampak senja begitu megah memancarkan jingganya. Aku duduk menikmati senja kala itu. Sesekali ingatanku terailh oleh seorang anak kecil tadi. Dari atas bukit aku berfikir bahwa bukankah seperti ini hidup kita ? harus kuat mendaki  setiap terjal dan kesulitan yang ada. Nantinya ketika di puncak, kau bisa menilai semuanya dengan leluasa dan tenang. Kehidupan yang kau jalani, setiap terjalnya kan kau dapati patahan-patahan dosa juga semua amalan ibadah yang sudah kau perbuat selama ini. Maka berlajarlah  menilai diri sendiri dengan jujur agar kedapannya kau bisa menjalani kehidupan dengan kejujuran.

50 hari di Guruapin-Kayoa, telah mengajarkanku banyak tentablng kehidupan.  Meski di awal kisah semuanya tampak asing dan tak sama. Namun manisnya rasa kekeluargaan terhadap seorang anak perantauan,  aku tak puas menikmati manisnya kemesraan ini. Walau pulangku di tambah dengan manisnya buah mangga sebagai oleh-oleh dari keluarga kecil disana. Maka  inilah seuntai cerita sebagai pemanis rasa terimakasih  untuk keluarga di Kayoa atas semua pembelajaran  tentang rasa berbagi dan member kasih .Semoga ini menjadi awal dari tali silaturahim kita.
Komentar

Berita Terkini