|

Sampah, Petaka Indonesia

Sampah Plastik yang menghiasi Kawasan Pantai Kota Ternate

Oleh: Faisal Yamin

Sampah merupakan hal yang masih menjadi perhatian serius oleh semua kalangan baik nasional maupun internasional. Ketika membicarakan masalah "sampah", maka kesimpulan sederhananya adalah "Sampah" menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah pusat juga pemerintah daerah, masyarakat, LSM dan Mahasiswa.

Indonesia sendiri merupakan negara penghasil sampah plastik terbesar kedua di dunia setelah Cina. Hal ini berdasarkan study yang dirilis McKinsey and Co. dan Ocean Conservasi, dikutip dari tirto.id (16/01/2019). “Banyaknya produksi sampah, terutama sampah plastik yang dikirim ke lautan Indonesia, secara langsung ikut menjadikan kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil sebagai kawasan kotor dan penuh sampah.

Dari hasil penelitian, didapatkan fakta bahwa sampah yang ada di kawasan pesisir didominasi oleh plastik dengan persentasi antara 36 sampai 38 persen”

Sementara itu, banyaknya sampah di lautan yang di dominasi oleh plastik telah membawa petaka bagi makhluk hidup yang ada di laut. Banyak biota laut di temukan mati mengenaskan dibanyak tempat. Hal ini terjadi disebabkan karena terbungkus atau adanya radiasi racun dari bahan kimia yang dikandung sampah plastik.



Bahkan lebih banyak biota laut mati karena perutnya dipenuhi oleh banyak sampah.

Kasus seperti diatas pernah terjadi di beberapa kota, satu diantaranya Wakatobi. Seekor Paus sperma ditemukan mati dengan perut yang dipenuhi sampah beberapa waktu lalu dan Paus Sei langka yang ditemukan dalam kondisi lemah karena tengorokanya di tutupi oleh plastik, (Nationalgeographic.co.id).

Kondisi laut yang dipenuhi sampah pada jangka panjang membuat biota laut mengalami kepunahan, sedangkan pada kondisi sosial, sampah plastik yang berterbaran di wilayah pesisir menyebabkan pantai-pantai menjadi terkontaminasi, kotor, abrasi bahkan kehilangan pijakan alias tempat bermain bagi anak-anak dimasa depan.


Dari potret diatas, sudah seharusnya ditanggapai secara serius. Kondisi kesadaran akan berbahanya sampah menjadi pekerjaan bagi semua kalangan, terlebih pada daerah kawasan kepulauan yang notabenenya wilayah pesisir seperti Maluku Utara.

Kesadaran membuang sampah baik di perkotaan, kabupaten sampai desa merupakan pekerjaan besar. Di kota sendiri, sampah plastik masih menghiasi berbagi tempat potensial sebut saja di sepanjang pesisir tapak Kota Ternate, Pasar, Drainase, Kali Mati,  hutan, dll.Padahal, mekanisme pengangkutan sampah cukup intens, namun kesadaran membuang sampah justru berbanding terbalik.


Kota Ternate menurut data BPS merupakan kota dengan luas wilayah 111, 39 Km2. Keseluruhan populasi sebanyak 218, 028 jiwa (2017) dengan kepadatan penduduk 1.957,34 jiwa/km2 dan letak geografisnya dikelilingi oleh laut. Walau Kota Ternate merupakan kota kecil, namun soal sampah masih menjadi problem tersendiri bagi Pemkot.

Langkah yang telah di lakukan oleh pemerintah Kota Ternate melalui dinas terkait dianggap sudah maksimal, namun tetap saja sampah belum mampu di selesaikan, terlebih setiap tahunnya volume sampah makin meningkat akibat dari kesadaran masyarakatnya sendiri.

Diketahui, Kota Ternate sendiri perhari dapat memproduksi sampah sebanyak 100 toh perhari, atau 559 kubik dengan daya angkut sampah oleh petugas kebersihan rata-rata hanya 362 atau 65 toh perhari.


Berdasarkan laporan dari Dinas Kebersihan dan Lingkungan Hidup (DLH) di tahun 2018, penyumbang sampah dari pemukiman warga sebesar 65,68 %, sampah pasar tradisional 8,12 %, sampah perniagahan 5, 65 %, sampah kawasan 2,4 % dan sampah lainnya sebesar 2,48 %, ditaksir sampah tersebut setiap tahunya meningkat. dikutip dari (gamalamanews.com 20/01/2018).


Sementara untuk data terbaru yang dikeluarkan oleh Dinas Kebersihan dan Lingkungan Hidup (DLH) mengatakan rata-rata untuk sampah yang di produksi oleh 77 Kelurahan yang tersebar di Kota Ternate sebanyak 8.000 ton sampah rumah tangga per hari (Indotimur.com 22/01/2018).

Sampah-sampah rumah tangga mungkin dapat ditangani oleh DLH dengan melakukan penanganan langsung ke Tempat Pembuangan Sampah, akan tetapi sampah plastik justru belum mendapat penanganan secara baik.


Kurangnya kesadaran masyarakat dalam membuang sampah adalah aktor paling vital berkembangnya sampah plastik. Apalagi aktivitas masrakat sebagai konsumen konsumtif barang jadi di Maluku Utara yang tinggi. Kita mungkin bagian dari pelaku pelaku tersebut, dimana sesuatu kita konsumsi secara "instan", dibuang secara instan. Seakan yang demikian adalah hal yang alami.

Arus informasi seharusnya menyadarkan diri secara besar di kelompok perkotaan. Resapan informasi tentang bahaya sampah plastik yang teredukasi lewat medsos adalah bagian utama mengevaluasi kekurangan baik penanganan atau sekedar tergerak membantu pemerintah lewat kesadaran diri ataupun kelompok.


Hal ini akan berbeda dengan arus informasi kawasan pesisir yang notabenenya jauh dari teknologi. Kesadaran membuang sampah yang lemah pada tingkat desa dan menjelma menjadi "kebiasaan".

Sampah plastik atau sampah rumah tangga tidak dapat dibedakan, semua berakhir pada satu tempat yakni laut dan pantainya.

Laut menjadi tempat pembuangan sampah turun temurun oleh masyarakat pesisir. Selain karena ketimpangan pembangunan, kesadaran kelompok berpendidikan juga tidak menjadi garda menyebarkan informasi. Kecenderungan kelompok pendidikan yang "apatis" merupakan kendala utama kampanye kesadaran sampah.


Di Maluku Utara sendiri, sampah di Wilayah pesisir sangat memprihatinkan. Pemerataan kesadaran sampah menjadi masalah utama setiap daerah. Gerakan membangun sadar sampah seakan simbiosis semata. Sebut saja kampanye sadar sampah yang betema, foto, upload, selesai.

Tindakan pamer kegiatan justru berbanding terbalik dengan kesadaran atau efek dari kegiatan tersebut. Padahal, kampanye seharusnya memberikan sebuah bobotan baru, ilmu baru atau materi baru dalam hidup dan akal untuk bergerak meninggalkan kebiasaan.

Dari semua fakta diatas, sampah ibarat penyakit. Sudah berada pada level "kronis". Butuh penanganan serius, baik pemerintah, masyarakat dan kesadaran diri sendiri. Sebab, bagi saya laut adalah kejayaan Indonesia dan sampah bisa merusak kejayaan itu

#savelaut
Komentar

Berita Terkini