|

Quo Vadis IPMB: Ikhtiar Menjawab Tantangan Masa Depan (Memperingati 29 Tahun Kelahiran IPMB)


Oleh: Ahmad Djafar
(Mantan Ketua Umum IPMB 2015-2016 dan Anggota DPK IPMB 2017-2018)


Tulisan yang ada dihadapan pembaca saat ini adalah sebuah refleksi pemahaman penulis. oleh karena itu, apabila dalam tulisan ini banyak dijumpai kalimat (istilah) yang sulit dipahami atau informasi yang penulis sajikan tidak sesuai dengan kebenaran fakta, maka harapan penulis adalah adanya sumbangsi pemikiran baik berupa saran dan kritikan guna menjaga faliditas kebenaran historis. Apalagi yang berhubungan langsung dengan sejarah serta dinamika dan situasi kelahiran IPMB.

Selain itu, tulisan ini juga merupakan ikhtiar, pun juga dapat disebut sebagai sebuah tesis penulis dalam rangka melihat kemungkinan perjalanan (oreintasi) IPMB kedepan. Apakah akan dijadikan sebagai wadah yang memfokuskan diri pada pengembangan kapasitas intelektual kader? ataukah hanya sekedar sebuah wadah yang  didalamnya terjebak sekelompok orang dengan ketidaksadaran masal yang terpelihara secara turun temurun yang menjadi harta warisan generasi setelanjutnya.

Fakta Sosiologis

Dalam perjalanan sejarahnya, kelahiran IPMB yang diprakarsai oleh Bapak Sitatin Abas, SH, Bapak Ruslan Jalil (Almarhum), Bapak Rusli Jalil, SH.,MH dan Bapak Deni Tjan, SH.,M.Si. demikian sederat nama pejuang pendiri IPMB yang seingat penulis. Pun juga penulis tidak menafikan tokoh-tokoh pejuang pendiri serta penerus IPMB lainnya yang juga memiliki andil besar dalam menjaga serta merawat IPMB.

Tepatnya IPMB berdiri pada tanggal 31 Januari 1989 di Ternate dengan nama Himpunan Keluarga Besar Mahasiswa Bicoli disingkat (HKBM- Bicoli), selanjutnya berubah menjadi Forum Komunikasi Pelajar Mahasiswa Bicoli disingkat (FKPM- Bicoli) dan perubahan yang terakhir hingga saat ini adalah Ikatan Pelajar Mahasiswa Bicoli disingkat disingkat (IPMB).

Harus diakui bahwa kelahiran IPMB adalah merupakan upaya perjuangan mahasiswa Bicoli kala itu (Bangsa Woso yang walaupun istilah ini baru populer dan tren dimasi kami- pen), (kini mereka adalah sesepu kita), perjuangan mereka sekaligus merupakan titik balik peradaban dengan kemampuan menyatukan seluruh kekuatan visi yakni memelihara falsafah serta kearifan dan nilai-nilai tradisional yang diyakini sebagai pamungkas dan perekat persatuan.

Selain itu, berkembangnya kesadaran dan pentingnya kecerdasan intelektual serta didorong dengan dinamika persaingan dikalangan mahasiswa yang  begitu ketat, menuntut mereka untuk membentuk sebuah wadah sebagai ruang perkaderan yang diisi dengan berbagai bentik kegiatan diantaranya diskusi dan kajian rutin isu-isu lokal dan isu kontemporer lainnya. Maka lahirlah IPMB sebagai jawaban atas upaya mereka untuk menjawab setiap kemungkinan dan tantang yang mungkin saja datang tanpa disadari.

Rekam Jejak Perjalanan IPMB

Tidaklah muda memang, apabila hendak mewujudkan misi besar yang belakangan telah dirintis dan dasar-dasarnya telah diletakkan oleh sesepu kita. Namun demikian, kita juga tidak bisa menafikan karakter tiap pribadi (pemimpin/orang yang diberikan tanggung jawab-pen) yang diberikan tugas suci dalam mengembangkan tanggung jawab organisasi. 

Benar memang, bahwa setiap masa ada tokohnya demikian sebaliknya bahwa setiap tokoh (pelaku sejarah-pen) ada masanya. Akan tetapi kita justru terlalu naif dengan hanya membanggakan keberhasilan generasi IPMB sebelumnya tanpa disertai usaha yang dilakukan serta terobosan-baru dalam bentuk ide kreatif yang dilahirkan.

Kondisi yang demikian adalah sebuah fakta yang kebenarannya tidak bisa kita abaikan begitu saja. Memang dalam sejarah kepemimpinan IPMB beberapa upaya perbaikan, peningkatan dan pengembangan organisasi telah dilakukan tetapi pada prinsipnya usaha serta upaya yang dilakukan tidak mampu manjawab persoalan mendasar IPMB yakni mampu melahirkan sumber daya manusia IPMB yang kreatif, rasional, kritis, inovatif serta kader yang memiliki kemampuan managerial sehingga diharapkan dapa memngelola IPMB sebagai perseroan intelektual kecil namun dapat diperhitungkan dalam hal besar.

Persoalannya adalah adanya ketidaksadaran tanggung jawab organisasi. Kondisi semacam ini biasanya ditunjukkan dengan kehadiran pengurus dan anggota yang terkesan senin kamis dalam setiap agenda organisasi. Selain itu, hilangnya fatsum organisasi yakni garis pembatas antara senior junior sehingga pergaulan organisasi yang tercermin adalah substansinya saya senior, dia yunior tetapi logika pergaulan yang berkembang adalah saya sapa ngan sapa.

Parahnya lagi, rutinitas dan ritual kajian tidak lagi dilakukan, bahkan ada asumsi yang belakang berkembang dikalangan kader adalah " untuk apa belajar, toh kita memiliki senior yang diakui banyak kalangan". Hal inilah yang menyebabkan tidak adanya batu loncatan dalam tiap kepengurusan.

Tugas Moral (Pesan Untuk Pengurus dan Adik-Adik IPMB)

Dengan adanya momentum IPMB yang ke-XXIX ini, sebagai senioritas mungkin pesan dasar yang dapat kami tinggalkan kepada pengurus dan kader IPMB adalah jadikanlah pengalaman perjuangan sebelumya (sesepu dan senior) sebagai momori kolektif dan spirit perjuang dalam rangka menjaga wadah tercinta (IPMB) sebagai semesta kecil. Dimana, didalamnya nanti kalian semua akan berbenturan satu dengan yang lain dan jika kalian mampu bertahan, maka kalian akan terbentuk dan lahir sebagai generasi baru dengan kualitas pengetahuan dan pemahamn yang mumpuni.

Sebagaimana kata Nurcholis Madjid kerap juga di sebut “Cak Nur” perumus NDP HMI, " Generasi yang baik adalah mereka yang memiliki Psicological Stricing Force. Semoga....
Komentar

Berita Terkini