-->
    |



Mereka dan Abainya Manusia

Dokpri

Oleh: Karman Samuda


Saya menyukai pagi, dengan kabut dan sinar matahari, berjalan mengikuti bayang-bayang abadi. Sembari memungut ingatan, Cathedrale de Chartes " demikianlah kisah dari pasah, ketika seluruh alam di buru resa oleh goda, zina, cinta dan perkotaan" seperti di ungkapkan Goenawan Mohamad pada karya Catatan Pinggirnya.

Pagi hingga petang adalah waktu bagi manusia menyelami dunia. Melirik-lirik, meraba-raba hinga bertaruh mimpi pada usaha di unjung harap. Manusia-manusia akan membentuk akal dan pikirnya hingga kadang lupa kapan ia harus menyapa.

Sore ini, menjadi penutup cerita. Setelah penat beraktivitas memburu informasi. Ku rehatkan diriku di sebuah sudut gedung, melepas lelah sembari menungguh waktu berbuka puasa. Mataku jeli, melihat-lihat perpindahan manusia yang berotasi seiring detik jam. Hingga, terpanah pada sesosok pria lusu yang sedang duduk di batas jalan.

Aku mengenalnya. Bahkan seisi pulau ini mengenalnya. Pria lusuh ini bernama Jinggo, nama yang disematkan warga.

Jinggo, berperawakan sawo matang mengenakan baju kusut dan berpenampilan amburadul. Ia duduk protokol jalan. Tangan kirinya memegang sebuah kresek berisi sebungkus nasi yang ia letakan di pahanya, dan tangan kanannya memegang sebuah tongkat kecil dengan erat.

Ia memiliki warna yang berbeda dengan mereka, manusia-manusia romantis yang sedari tadi memaduh kasih di taman. Di depannya, berdiri bangunan megah simbol daerah; Istana Daerah Kabupaten kepulauan sula.

Aku terhanyut, detik demi detik layaknya ungkapan Goenawan Mohamad yang menyukai waktu (pagi) karena ia berlindung pada kecepatan detik. Jinggo bak selebriti, ia menjadi tontonan layaknya artis bagi penonton yang lalu-lalang berkendaraan mewah. Tanpa peduli, tanpa iba dan tanpa simpati.

Sesekali, Ia di olok-olok. Dilempari batu oleh anak-anak generasi biru sambil mengumpat, "Orang gila-orang gila," sembari berlari dan mengujam batu kearahnya.

Ia tak peduli, Ia hanya bertahan dengan suara kerasnya hingga membuyarkan kenakalan anak-anak tadi. Setelah itu, duduk kembali dan menatap kosong. Sesekali ia mengamati kendaraan-kendaraan yang melintas.

Aku tak mengenalnya, siapa ia, dari mana asalnya, siapa keluarganya. Tetapi, pria ini tidak asing di mata. Pria yang sering menantang tapak kakinya di terik mentari ini adalah wujud sehari-hari yang sering ku temui berjalan menyusuri jalanan

Seputaran pusat ekonomi, pertokoan ialah tempat khusus baginya, seorang diri. Warga-warga melabelinya, hilang ingatan (gila).

Pemikiranku mulai terbentur pada kondisi kini, ditengah pandemi dan Ramadhan saat ini ia harus menangung hidup pada jalan pikirnya. Iba dan simpati adalah kiasan semata. Jauh dari harap sebagai manusia pikirku. Padahal, di Bulan Ramadhan kini, manusia bisa sempurna amalannya ketika saling membantu. Membantunya walau sedikit. Aku tak menyalahkan siapa-siapa, hanya sedikit terlalu skeptis.

Sejam lebih aku mengamatinya. Tepat di sampingku juga duduk seorang pria yang sedari tadi tak melepas pandangan pada si Jinggo. Sang aktor pertunjukan sore ini di Taman Isa sembari berceloteh tentang bantuan-bantuan pemerintah.

Banyaknya bantuan akibat pandemic saat ini tidak tepat sasaran. Banyak warga tak menerima apapun, Kesalnya. Ia heran pada mereka-mereka yang hilang dasar sosial membantu pemerintah untuk saling berbagi di situasi mencekam ini. Membagi sedikit rejeki pada mereka yang dapur-dapurnya mulai tak berasap karena kehilangan alat tukar.

Ia mengela napas, sebelum kembali berkata-kata. Tidak ada salahnya, kita berbagi. Apalah arti manusia jika kehilangan fitrah. Kita sudah serakah, dan tak mau berbagi rejeki. Kemudian, diam dan larut pada angannya sendiri. Sedang aku, masih mencerna pelan kata-katanya sebelum kembali menatap Jinggo yang masih berada tepat dihadapanku.

Jika benar ia yang berada tepat di depanku mengalami gangguan jiwa, apakah pantas ia ditelantarkan begitu saja ? tidakkah ia pantas menerima bantuan atau perhatian dari penguasa? merawat hingga sembuh? kemanakah penguasa?

Ada harap di pengujung cerita. Pemerintah berbelas kasih dan berbaik sangka menyusun kebijakan yang mampu mencapai orang seperti Jinggo. Di siapkan Rumah Sakit khusus Kejiwaan (RSJ). Walaupun, harapan itu terlampau tinggi, mengingat di Kabupaten Kepualauan Sula belum memilili fasilitas kesehatan yang memandai.

Mereka bagian dari kita, yang berbeda hanya pikir. Jangan biarkan mereka terus terkungkung kesunyian dan terpanggang oleh ketidak pedulian kita.

Diakhir cerita, apresiasi dan terima kasih disampaikan pada manusia-manusia yang sudah berbaik hati. Mengelola jiwa menjadi bersih. Padanya, kalian berani, menatang godaan untuk berinteraksi. Tak mampu dibalas kecuali, Sang pemilik Kekuasaan akan hidup. ***
Komentar

Berita Terkini