|




Kampus Tidak Boleh Jauh dari Kebun Kopi

 


Oleh: 

Prasmita Dian Wijayati

Dosen Program Studi Agribisnis Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur

Perguruan tinggi sering dipandang sebagai ruang akademik yang sibuk dengan teori, seminar, dan publikasi ilmiah. Tidak sedikit masyarakat yang merasa kampus terlalu jauh dari persoalan nyata yang dihadapi desa-desa di Indonesia. Padahal, di luar ruang kelas dan laboratorium, banyak persoalan masyarakat yang membutuhkan sentuhan ilmu pengetahuan dan teknologi. Desa-desa penghasil kopi, misalnya, menghadapi tantangan besar dalam meningkatkan mutu dan daya saing produk mereka. Di titik inilah kampus seharusnya hadir, bukan sebagai penonton, tetapi sebagai mitra perubahan.

Kopi rakyat saat ini memiliki peluang ekonomi yang sangat besar. Tren konsumsi kopi di Indonesia terus meningkat, sementara pasar mulai bergerak menuju kopi berkualitas dan beridentitas daerah. Di banyak kota, kedai kopi tumbuh hampir di setiap sudut jalan. Konsumen tidak lagi sekadar mencari kopi murah, tetapi juga kualitas, cerita asal-usul produk, hingga proses pengolahan yang baik. Situasi ini sebenarnya membuka peluang besar bagi daerah penghasil kopi rakyat seperti Trenggalek.

Trenggalek memiliki kondisi geografis yang mendukung pengembangan perkebunan kopi. Di sejumlah desa, kopi menjadi sumber penghidupan utama masyarakat. Hasil kopi rakyat tidak hanya menopang ekonomi keluarga petani, tetapi juga menggerakkan aktivitas ekonomi desa. Namun, besarnya potensi tersebut belum sepenuhnya berbanding lurus dengan kesejahteraan petani. Banyak kopi rakyat masih dijual dengan nilai tambah yang rendah karena persoalan mutu dan tata kelola usaha.

Persoalan terbesar kopi rakyat sebenarnya bukan hanya soal produksi. Banyak petani sudah mampu menghasilkan kopi dalam jumlah cukup baik, tetapi belum mampu menjaga konsistensi kualitas produk. Proses sortasi green bean masih dilakukan secara sederhana dan manual. Biji kopi berkualitas baik sering bercampur dengan biji cacat atau kotoran lain karena belum adanya sistem standardisasi mutu yang memadai. Akibatnya, kopi sulit masuk ke pasar premium yang sangat memperhatikan kualitas produk.

Masalah lain muncul pada aspek pencatatan mutu dan keamanan pangan. Banyak kelompok tani belum memiliki sistem quality control yang terdokumentasi dengan baik. Padahal, pasar modern semakin menuntut transparansi dan konsistensi kualitas produk. Selain itu, pemahaman tentang Sistem Jaminan Produk Halal dan praktik keamanan pangan berbasis CPPOB juga masih terbatas. Kondisi ini membuat kopi rakyat sulit bersaing di pasar formal yang membutuhkan standar produksi lebih ketat.

Di tengah kondisi tersebut, hilirisasi teknologi perguruan tinggi menjadi sangat penting. Kampus tidak boleh hanya menghasilkan penelitian yang berhenti di jurnal atau ruang seminar. Teknologi yang dikembangkan harus mampu menyelesaikan persoalan nyata masyarakat. Hilirisasi teknologi berarti membawa hasil inovasi kampus agar benar-benar dapat digunakan dan memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat. Teknologi harus membumi, mudah diterapkan, dan sesuai dengan kebutuhan lapangan.

Sayangnya, banyak program bantuan teknologi sering gagal karena tidak memahami kondisi masyarakat. Tidak sedikit alat bantuan akhirnya mangkrak karena terlalu rumit, mahal, atau tidak sesuai kebutuhan petani. Karena itu, teknologi tepat guna menjadi pendekatan yang lebih relevan bagi pengembangan kopi rakyat. Petani membutuhkan alat yang sederhana, hemat energi, mudah dioperasikan, dan benar-benar membantu pekerjaan mereka. Teknologi yang berhasil bukanlah yang paling canggih, tetapi yang paling bermanfaat.

UPN “Veteran” Jawa Timur mencoba mengambil peran dalam upaya pengembangan kopi rakyat di Trenggalek melalui program pemberdayaan masyarakat berbasis penguatan mutu dan kelembagaan usaha kopi. Program ini tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga pada pembangunan sistem usaha kopi yang lebih modern dan berstandar. Bersama kelompok tani dan mitra kolaborasi, pendampingan dilakukan untuk membantu petani memahami pentingnya standardisasi mutu, quality control, hingga keamanan pangan. Pendekatan ini penting agar petani tidak hanya menjadi produsen bahan mentah, tetapi juga pelaku usaha yang lebih berdaya saing.

Kolaborasi dengan tim Teknik Instrumentasi ITS turut menghadirkan inovasi berupa alat sortasi kopi semi-mekanis yang dirancang sesuai kebutuhan kelompok tani. Alat tersebut menjadi contoh bagaimana hasil pengembangan teknologi kampus dapat diterapkan secara langsung di masyarakat. Teknologi ini dirancang hemat energi, mudah digunakan, dan sesuai dengan skala usaha kelompok tani kopi rakyat. Kehadiran alat sortasi membantu meningkatkan konsistensi mutu green bean sekaligus mempercepat proses kerja petani. Dengan kualitas yang lebih baik, peluang kopi rakyat untuk masuk ke pasar premium juga semakin terbuka.

Namun, hilirisasi teknologi tidak cukup hanya dengan menyerahkan alat kepada masyarakat. Teknologi tanpa pendampingan sering kali tidak bertahan lama. Karena itu, program pengembangan kopi rakyat di Trenggalek dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan. Pendampingan meliputi penyusunan SOP mutu, pembuatan QC sheet, pelatihan SJPH, hingga penerapan CPPOB. Kampus hadir bukan hanya sebagai pemberi bantuan, tetapi juga sebagai mitra belajar bagi masyarakat desa.

Pendekatan pendampingan jangka panjang menjadi penting karena perubahan pola usaha tidak dapat terjadi secara instan. Petani perlu waktu untuk memahami standar mutu dan budaya pencatatan usaha. Kelompok tani juga membutuhkan penguatan kelembagaan agar mampu mengelola usaha secara kolektif dan profesional. Dalam konteks ini, peran perguruan tinggi bukan hanya mentransfer teknologi, tetapi juga membangun kapasitas manusia dan organisasi masyarakat. Pemberdayaan menjadi inti utama dari proses hilirisasi teknologi.

Jika penguatan mutu berjalan baik, dampak ekonominya akan sangat besar bagi desa. Kopi dengan grade yang lebih baik memiliki harga jual lebih tinggi dibanding kopi yang tidak tersortasi dengan baik. Pendapatan petani berpotensi meningkat seiring membaiknya kualitas produk dan akses pasar. Selain itu, usaha kopi yang berkembang juga dapat membuka peluang kerja baru di desa. Operator sortasi, tenaga quality control, hingga pengelola administrasi usaha kelompok menjadi bagian dari aktivitas ekonomi baru yang tumbuh dari sektor kopi.

Lebih jauh lagi, kopi dapat menjadi pintu masuk pembangunan ekonomi desa berbasis komoditas unggulan lokal. Desa tidak lagi hanya menjadi tempat produksi bahan mentah, tetapi juga pusat penciptaan nilai tambah. Generasi muda desa pun memiliki peluang lebih besar untuk terlibat dalam usaha kopi modern. Inilah mengapa pengembangan kopi rakyat tidak sekadar urusan pertanian, tetapi juga bagian dari strategi pembangunan desa yang lebih luas. Ketika ekonomi kopi tumbuh, desa ikut bergerak maju.

Pada akhirnya, pengembangan kopi rakyat mengajarkan satu hal penting bahwa ilmu pengetahuan harus hadir di tengah masyarakat. Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab sosial untuk memastikan hasil riset dan inovasi dapat memberi manfaat nyata bagi rakyat. Kampus tidak boleh berdiri terlalu jauh dari persoalan desa, termasuk dari kebun-kebun kopi rakyat yang sedang berjuang naik kelas. Sebab, di sanalah ilmu pengetahuan menemukan makna pengabdiannya yang paling nyata.


Komentar

Berita Terkini